Pages

Rabu, 07 April 2010

PELUANG USAHA

peluang usaha baru

peluang usaha bisnis

peluang usaha sampingan

situs peluang usaha

mencari peluang usaha

cari peluang usaha

artikel peluang usaha

peluang usaha online

peluang usaha mlm

peluang usaha warnet

membuka peluang usaha

peluang usaha warung

proposal peluang usaha

prospek peluang usaha

peluang usaha restoran

peluang usaha koperasi

membuat peluang usaha

peluang usaha investasi

peluang usaha jasa

peluang usaha kerja

peluang usaha sendiri

kiat peluang usaha

peluang usaha menengah

peluang usaha kerjasama

peluang usaha properti

peluang usaha industri

jenis peluang usaha

cara peluang usaha

peluang usaha terbaru

peluang usaha sukses

peluang usaha komputer

contoh peluang usaha

peluang usaha makanan

peluang usaha waralaba

tentang peluang usaha

peluang usaha franchise

majalah peluang usaha

peluang modal usaha

peluang untuk usaha

peluang buka usaha

peluang membuka usaha

peluang dan usaha

peluang bisnis usaha

peluang kerjasama usaha

tabloid peluang usaha

peluang usaha internet

info peluang usaha

peluang usaha modal

peluang usaha menguntungkan

peluang usaha ritel

peluang usaha mandiri

peluang usaha rumah makan

peluang usaha dagang

peluang usaha rumahan

peluang usaha percetakan

informasi peluang usaha

makalah peluang usaha

peluang usaha ukm

pengertian peluang usaha

buku peluang usaha

peluang usaha modal kecil

peluang usaha tanpa modal

peluang usaha dengan modal kecil

peluang usaha kecil menengah

peluang dunia usaha

peluang mitra usaha

peluang wira usaha

usaha peluang

iklan peluang usaha

peluang usaha di rumah

peluang usaha pulsa

peluang usaha dirumah

peluang usaha sembako

peluang usaha kursus

peluang usaha reseller

milis peluang usaha
peluang usaha it
peluang usaha photo
website peluang usaha
100 peluang usaha
media peluang usaha
peluang usaha software
peluang usaha es
peluang usaha solo
peluang usaha digital
peluang usaha pdf
peluang usaha retail
peluang usaha ps
peluang usaha counter
Modifikasi Peti Kemas Menjadi Ruangan Berkelas
Menyulap peti kemas menjadi barang yang fungsional jelas bukan perkara gampang. Tapi Fajar Achyarianto mampu melakukannya. Ia bisa menaikkan pamor peti kemas ‘bekas’ menjadi bisnis menjanjikan yang memberi banyak keuntungan.Renny Arfiani
Membangun usaha dengan modal kepiawaian mengolah barang-barang bekas sudah lazim dijumpai. Faktanya banyak pengusaha sukses lahir dari bisnis semacam ini. Mulai dari pengolahan limbah plastik, kertas, besi hingga limbah yang tak terpikir untuk didaur ulang seperti limbah foto rontgen, compact disk dan masih banyak lainnya. Disini mereka mencoba berinovasi menciptakan fungsi baru dari sebuah barang bekas agar punya nilai kegunaan. Bisnis kreatif tersebut tanpa disadari bisa mendatangkan keuntngan yang melimpah.
Salah seorang yang concern dengan bisnis semacam itu adalah Fajar Achyarianto dengan memanfaatkan media peti kemas. Selama ini peti kemas digunakan untuk mengangkut atau mengirim barang dalam jumlah besar. Tapi jika kondisinya sudah tidak layak pakai kemungkinan bisa merusak muatan yang ada didalamnya. Lalu langkah apa yang mesti dilakukan? Memperbaikinya agar barang itu kelihatan baru bisa saja dilakukan. Tapi langkah itu rasanya menjadi kurang greget. Pria yang kerap disapa Ari ini lebih suka menyulap peti kemas tadi menjadi sebuah ruangan yang yang bisa difungsikan sebagai kantor, rumah sakit, supermarket.
Ide itu bermula ketika Ari merasa tidak lagi menemukan tantangan dari bisnis jual beli container kosong yang ia digeluti. Setelah setahun berkecimpung, ia baru sadar jika container sepintas bentuknya ada kemiripan dengan rumah. “Container punya jendela seperti rumah. Karena latar belakang saya dari teknik sipil, saya mencoba mencari tahu mengenai container office,” kata Ari yang memulai usaha container office-nya dari tahun 1998 dengan modal Rp5 juta.
Untuk membuat container office atau portacamp dibutuhkan peti kemas kosong dengan kondisi 80% baik. Mengingat yang pakai adalah peti kemas bekas maka tidak mudah menemukan barang dalam kondisi sangat bagus. Apalagi melewati berbagai pelayaran di laut maka tingkat korosinya juga tergolong tinggi.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 97/Agustus 2009.


Budidaya Belut Pasarnya Yahud

Jumlah permintaan komoditi belut terus melesat, baik di dalam maupun di luar negeri. Pasokan yang ada belum bisa mencukupi. Peluang yang perlu Anda pertimbangkan. Wiyono
Gurihnya daging belut semua orang tahu. Tetapi tahukah Anda jika komoditi satu ini peluang pasarnya segurih rasanya? Sonson Sundoro, pembudidaya belut sejak 1986 dan telah melakukan ekspor mulai tahun 1996, mengatakan, permintaan pasar, baik domestik maupun ekspor dari waktu ke waktu terus meningkat. Di pasar lokal belut diserap, baik oleh pasar-pasar tradisional, swalayan, hingga ke rumah-rumah makan. Sedangkan untuk luar negeri, Sonson menjualnya ke Cina, Taiwan, Korea, Hongkong, Singapura, Malaysia dan Jepang. Dan sampai saat ini, jumlah permintaan belum sebanding dengan besarnya kemampuan suplai barang.
Pada waktu pertama kali ekspor belut ke Hongkong tahun 1996, pengusaha Dapetan Eels Farm asal Bandung itu mengaku baru bisa suplai sebanyak 5 ton belut/minggu dari permintaan 25 ton/hari. Faktor penyebab kesulitan pasokan karena belut hasil budidaya belum signifikan jumlahnya, jadi sebagian besar masih mengandalkan tangkapan dari alam. Padahal, seperti dikatakan, mulai tahun 2004 permintaan belut hidup dari RRC dan Hongkong meningkat tajam, yaitu 100 ton/hari untuk satu orang importir, dari lebih dari 5 importir. ”Dan yang bisa dipenuhi hanya 2,5 ton/hari, itu pun kadang-kadang kurang. Karena itu tadi, hasil dari tangkapan alam tidak selalu ada sedangkan dari budidaya belum begitu banyak hasilnya,” ujar Sonson.
Dibandingkan dengan komoditi ikan air tawar lain, misalnya ikan mas atau lele, harga jual belut juga relatif lebih tinggi. Harga pasaran binatang mirip ular itu pada tingkat buyer lokal mencapai Rp35 ribu/kg, sementara untuk pasar luar negeri Sonson menjual USD5,00/kg. ”Karena permintaan meningkat dan dari pasokan tangkapan alam tidak mencukupi, apalagi pada saat musim kemarau pasokan belut di alam seakan hilang, akhirnya saya memutuskan untuk menguatkan produksi,” aku lulusan Institut Teknologi Industri jurusan Teknik dan Manajemen Industri tersebut.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 87/ Oktober 2008.



Kumis Kucing, Pilih Mana Daun atau Ekstrak?

Selama ini, orang memanfaatkan khasiat kumis kucing hanya melalui daunnya yang telah dikeringkan. Hasilnya, agak ribet. Naturlife Greenworld memberi solusi dengan menawarkan produk esktrak berupa fitofarmaka atau kapsul suplemen makanan yang dapat langsung dikonsumsi. Russanti lubis
Kumis kucing (Latin: Orthosiphon Stamineus Benth, red.) merupakan tanaman semak, yang diyakini memiliki sejumlah khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sebab, menurut penelitian, daun dari tanaman yang dapat tumbuh di tempat basah maupun kering dengan ketinggian 700 m di atas permukaan laut ini, mengandung kadar kalium yang cukup tinggi. Selain itu, daun yang berbentuk telur taji ini juga mengandung glikosida orthosiphonin, yang berkhasiat untuk melarutkan asam urat, fosfat, dan oksalat dari kandung kemih, empedu, dan ginjal.
Dengan khasiat yang dahsyat itu, tanaman herbal yang dikenal Masyarakat Madura dengan nama songot koceng ini, sangat diminati oleh berbagai industri obat-obatan dan kosmetika di mancanegara. Sebuah sumber mengatakan bahwa daun kumis kucing telah diekspor ke Belanda, Jerman, Eropa Barat, dan Amerika Serikat. Tapi, ironisnya, justru di Indonesia, tanaman yang biasa tumbuh liar di ladang atau sungai ini, sama sekali belum dikembangkan secara profesional. Mayoritas masyarakat kita masih menjadikannya sebagai tanaman hias belaka.
Namun, akhir-akhir ini muncul perkembangan yang menggembirakan. Khususnya, dalam dunia farmasi di mana tanaman yang nenek moyangnya berasal dari Afrika ini, juga digunakan sebagai bahan dasar obat-obatan moderen. Hal ini, terjadi seiring dengan semakin meningkatnya permintaan dari kalangan industri farmasi dan jamu di dalam negeri. Imbasnya, kini tidak sulit lagi mencari kumis kucing di berbagai apotek, toko obat, atau toko bahan suplemen makanan. Tapi, tentu saja, dalam bentuk ekstraknya yang kemudian diolah lagi menjadi isi kapsul, misalnya.
Sekadar informasi, ekstrak kumis kucing berarti turunan produk berbasis bahan alam dengan bahan utamanya, dalam hal ini, daun kumis kucing. Sementara, ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu bahan dari campurannya. Ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara atau yang dikenal dengan istilah ekstraksi panas dan ekstraksi dingin. Proses ini menggunakan pelarut yang didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran.
“Secara sederhana, ekstraksi adalah proses untuk memperoleh sari pati suatu bahan baik dari bahan tumbuhan maupun hewan Hasilnya berupa bubuk atau serbuk,” jelas Galih Prasetya Utama, Executive Manager Naturalife Greenworld & Co-PT PNU. Karena itu, ekstraksi berbeda dengan destilasi di mana proses ini menggunakan perbedaan titik didih zat terlarut dengan pelarut. Hasil akhirnya berupa minyak/cairan atau yang lebih dikenal dengan istilah minyak atsiri.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 100/November 2009.



Eits… Limbah Filter Oli Anda Ternyata Masih Berguna
Siapa sangka limbah filter oli mampu disulap jadi lampu hias nan indah. Kepiawaian Adeasmara ini telah membuatnya memiliki produk lampu hias yang mampu menembus pasar global. Renny Arfiani
Bagi Anda yang sering membawa kendaraan ke bengkel tentu tidak asing dengan filter oli. Benda ini tergolong vital untuk kendaraan yang secara berkala perlu dilakukan pergantian. Maka, tak perlu heran jika Ada begitu gamoang menemukan filter oli bekas di sekitar bengkel. Tentu dalam kondisi kotor berlumuran bekas oli dan mungkin orang enggan untuk menyentuhnya. Tapi coba Anda berikan benda itu pada Adeasmara pemilik industri kerajinan berlabel Skala 6. Ia akan mengubahnya menjadi sebuah lampu hias yang unik dan menarik untuk dilihat.
Ada banyak lampu hias yang beredar di pasaran beragam bentuk dan bahan pembuatnya. Ade, demikian pria ini biasa disapa, menyadari tanpa sesuatu yang unik maka sangat sulit baginya untuk bisa eksis dalam mengenalkan produknya. Kebetulan ia memiiki background sebagai desainer interior jadi cukup mengetahui kebutuhan lampu hias sebagai dekorasi. Menurutnya, orang biasa menggunakan lampu hias sebagai pemanis ruangan. Bisa jadi tak hanya cukup satu, namun bisa lebih dalam satu ruangan. “Jika fungsinya sebagai pemanis maka haruslah lampu hias yang unik,” demikian pemikiran Ade. Lantas ia mencoba mendesain lampu hias yang unik dan baru.
Gayung bersambut. Ketika ada perusahaan mobil nasional yang menantangnya berinovasi dengan memberikan material untuk membuat lampu hias secara cuma-cuma. Alhasil, limbah filter oli yang ‘dihibahkan’ padanya diubah menjadi lampu hias nan cantik. Pada kerangka lampu ia tambahkan motif batik nasional seperti batik dari Aceh, Betawi, Bali, Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Ia juga memberi sentuhan warna hitam dan putih sebagai warna utama untuk memberikan kesan elegan pada produk lampu hiasnya.
Pertama kali diperkenalkan ke pasaran respon yang diterima cukup mengejutkan. Ade mengisahkan, dalam sebuah pameran, semua lampu hiasnya habis terjual. Ia optimis bisa mengambil pangsa pasar yang telah lebih dulu dimasuki pemain lain. Pelan-pelan, bisnis yang dimulai sejak lima tahun silam mampu memikat tidak hanya konsumen dalam negeri tapi juga mancanegara.
Ia sama sekali tidak menyangka jika lampu hiasnya bisa menembus hingga ke pasar global. Ketika itu, ia kedatangan seorang pelanggan yang ingin memesan lampu hias. Pelannggan itu malah menawarkan untuk memasarkannya ke Malaysia. “Sebenarnya saya hanya menyasar pasar dalam negeri tapi respon pasar luar negeri justru lebih baik. Peminat lampu hias Skala 6 untuk pasar dalam negeri paling hanya 30% saja, sisanya 70% boleh dikatakan adalah konsumen luar negeri,” kata alumnus Jurusan Arsitektur, Universitas Pancasila ini.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 100/November 2009.



Menakar Besarnya Khasiat Undur-Undur
Meski berkhasiat mampu menurunkan kadar gula dalam darah, keberadaan undur-undur masih dipandang sebelah mata. Padahal alam menyediakannya secara gratis dan dalam jumlah besar. Russanti Lubis
Masih ingat fenomena Ponari dan batu "ajaibnya", serta para "penirunya"? Dari sini, dipetik suatu pelajaran bahwa kepercayaan sebagian anggota masyarakat terhadap pengobatan moderen, semakin lama semakin berkurang. Sebaliknya, mereka semakin lama semakin mempercayai pengobatan yang dianggap kurang atau bahkan sama sekali tidak masuk akal, yang sering disebut pengobatan alternatif.
Pengobatan alternatif menggunakan banyak media, yang sebagian di antaranya berasal dari alam. Salah satunya yaitu undur-undur. Binatang super kecil (berukuran kurang dari 2 cm, red.) yang biasanya dijumpai di sekitar rumah berhalaman pasir ini, dipercaya dapat menyembuhkan diabetes dan beberapa penyakit lain seperti stroke, kolesterol, asam urat, dan lain-lain, hanya dengan memakannya hidup-hidup. Di samping itu, juga tidak berefek samping, karena 100% natural. Bahkan, pengobatan Cina, sampai sekarang masih menggunakannya.
Berdasarkan penelitian bagian farmasi Universitas Gajah Mada (Kajian Potensi Undur-Undur Darat, 2006, red.), undur-undur mengandung zat sulfonylurea. Kerja sulfonylurea pada undur-undur yakni melancarkan kerja pankreas dalam memproduksi insulin. Dengan kata lain, hewan ini paling efektif untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Tapi, berapa persen kesembuhan yang dapat diperoleh, sampai saat ini belum diketahui. Karena, memang belum ada penelitian tentang hal ini. "Kebanyakan konsumen kami, hanya mengatakan bahwa kondisi tubuh mereka lebih sehat, setelah mengonsumsi undur-undur," jelas Okman, pengumpul dan pemasar dalam usaha undur-undur ini.
Undur-undur (Latin: Myrmeleon Sp, red.) ini, Okman melanjutkan, sebaiknya dikonsumsi dalam kondisi hidup, baik yang ditelan langsung maupun yang dalam bentuk kapsul. Satu kapsul, biasanya berisi tiga bakal serangga (hidup) yang dalam Bahasa Inggris disebut Lion Ant atau Di Gu Niu dalam Bahasa Cina ini. "Dalam kondisi hidup, senyawa aktifnya masih utuh. Berbeda dengan yang dalam bentuk sudah dikeringkan atau ekstrak, lalu dimasukkan ke dalam kapsul," kata pemilik dan pemasar usaha budidaya Ikan Malas (ikan betutu) ini.
Dengan alasan itulah, usaha yang berlokasi di Yogyakarta ini menjual atau mengirimnya dalam keadaan hidup. Garansinya, bila sesampainya di tangan pemesan ternyata ada undur-undur yang mati, akan segera diganti. "Harga per paket (1 paket = 100 ekor + bonus 25 ekor) Rp100 ribu. Harga itu sudah termasuk wadah pemeliharaan, kapsul kosong, dan biaya pengiriman untuk Pulau Jawa," ujarnya. Jika dihitung-hitung, harga seekor undur-undur cuma Rp1.000,-.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 95/Juni 2009.




Pasar Asyik Gravier Acrylic
Kebutuhan konsumen yang cenderung meningkat dan masih sedikitnya pemain yang menggeluti bisnis gravier acrylic membuat usaha Adit ini terus melesat. Anita Surachman
Seringkali ide bisnis muncul dari kombinasi passion (kecintaan yang mendalam terhadap sesuatu) dengan pengalaman bekerja sebagai karyawan. Setidaknya itulah yang terjadi pada Richard Aditya Wijojo. Kecintaannya pada dunia seni dan pengalamannya sebagai sales mesin-mesin menjadi pemantik bagi dirinya untuk menerjuni binis gravier acrylic.
Seperti banyak diidap pebisnis pemula, demikian yang dihadapi pria yang akrab disapa Adit ini. Lingkungan terdekatnya, yakni keluarga maupun teman-teman di lingkungan kerja, tak sepaham dengan keputusan Adit berwirausaha. Mereka berpikir, menekuni sesuatu yang baru pasti mengundang banyak kesulitan. Namun tekad Adit sudah bulat. Di balik kesulitan pasti tersimpan peluang. Dan kesulitan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi harus dipecahkan. Demikian pikiran Adit untuk mempertebal keyakinan atas pilihannya tersebut. “Apalagi bisnis ini relatif baru, pemainnya masih jarang sehingga peluangnya besar.”
Berbekal modal dari tabungan sewaktu masih bekerja sebagai karyawan ditambah dengan pinjaman dari keluarga, Maret 2008 Adit mulai merintis usaha ini. Langkah pertama adalah mencari semua detil informasi tentang bisnis tersebut. Baru selang tiga bulan kemudian Adit mendirikan Huahahahahaha Art&Design. Nama yang cukup unik. Selain nama itu terasa nendang (istilah yang sering dipakai Bondan Winarno), terkandung maksud bahwa supaya produknya bisa membuat orang tersenyum bahagia.
Selain sejalan dengan minat, imbuh Adit, bisnis yang ia geluti ini selalu menuntut adanya kreatifitas, karena memang itulah inti dari produk-produk seni. Kedua hal tersebut terkait dengan sisi kepuasan immateriil. Sedangkan dari sisi bisnis, usaha ini belum banyak yang menggeluti padahal tingkat kebutuhan konsumen terhadap produk gravier acrylic cukup tinggi.
Tak heran jika permintaan tidak hanya terkosentrasi pada satu wilayah saja. Usaha yang berbasis di Semarang ini juga banyak mendapat pesanan dari Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya di seluruh Indonesia. Bahkan ada beberapa pelanggan dari luar negeri semisal Singapura dan Australia. Jamak memang, karena jika disandingkan dengan produk gravier acrylic impor harga produk Adit jauh lebih kompetitif. “Informasi ini saya peroleh saat melihat pameran. Produk dalam negeri memang kompetitif. Namun banyak pemain yang tidak tahu tentang teknologi yang tepat untuk menghasilkan karya seni ini,” tuturnya.

Gravir acrylic karya Adit terentang mulai dari yang berujud tulisan saja sampai gravier photo pada acrylic. Tetapi ia buru-buru menambahkan bahwa ketrampilan menggravier ini tidak hanya terbatas pada media acrylic saja. Karya gravier bisa diguratkan di media kaca, cermin, lantai granit, kayu, kain, dan masih banyak lagi.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 92/ Februari 2009.


Kemilau Batu Obsidian Seindah Kristal
Selain bentuknya yang indah, batu obsidian menjadi bernilai tinggi karena proses memperolehnya tidak mudah. Meski pasar di luar negeri berprospek cerah, belum banyak pengusaha yang mau mengolah. Russanti Lubis
Indonesia merupakan negara yang memiliki gunung berapi terbanyak di dunia. Tercatat, Nusantara ini memiliki lebih dari 140 gunung berapi, di mana 129–130 di antaranya masih aktif. Pengertian aktif di sini berarti bahwa gunung-gunung berapi tersebut, masih melakukan aktivitas letusan. Imbas dari letusan tersebut yaitu keluarnya berbagai material, yang terkandung di dalam gunung berapi itu.
Pada satu sisi, letusan gunung berapi bahkan dapat menyebabkan kerusakan yang mahadahsyat terhadap lingkungan disekitarnya. Tapi, pada satu sisi yang lain, gejala alam yang menakutkan itu juga memberi banyak manfaat. Contoh, lapukan batuan gunung berapi dapat mendatangkan kesuburan bagi tanaman dan tanah. Sedangkan lava, melalui proses pendinginan alamiah yang berlangsung dalam rentang waktu yang relatif lama hingga akhirnya membeku, akan menjadi bebatuan yang cantik dan bernilai ekonomi tinggi.
Batu yang dimaksud yaitu obsidian. Batu yang memiliki warna-warni indah, seperti hijau, biru, cokelat, kuning, dan lain-lain ini sering dianggap kaca. “Ya. Ada beberapa kalangan yang mengira obsidian sebagai kaca. Padahal, obsidian berasal dari lava yang membeku atau mengeras, karena proses natural. Sementara, kaca dihasilkan melalui proses pemanasan dengan suhu tertentu, sebagai salah satu hasil karya manusia,” jelas Yahya Abdul Habib Al-Khatiri, President Director PT Habbamas Bersama.
Obsidian, pria yang akrab disapa Habib ini melanjutkan, sangat menarik dan unik dari segi warna dan tekstur. Bila dibentuk menjadi berbagai produk yang dibutuhkan atau yang memiliki nilai seni, obsidian memiliki nilai jual yang tinggi. Bahkan, konon, bagi beberapa orang, batu ini juga mendatangkan energi positif yaitu menenangkan dan menyehatkan.
“Kami melihat adanya peluang bisnis dari batu ini. Di samping itu, kami juga merasa tertantang untuk membentuknya menjadi produk-produk, yang bernilai seni tinggi,” kata Habib. Dikatakan begitu, sebab dibandingkan dengan batu-batuan lain, obsidian sebagai bahan baku berbagai produk bisnis, kehadirannya masih terbilang baru. Sehingga, perlu waktu relatif lama untuk memperkenalkannya kepada masyarakat. Selain itu, PT Habbamas Bersama mengolahnya menjadi berbagai desain atau bentuk seperti yang diinginkan konsumen, langsung dari bongkahan-bongkahan batu gunung itu.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 96/Juli 2009


Hujan atau Panas Kini Tidak Lagi Masalah
Alangkah enaknya jika saat berkendara dengan sepeda motor kita terbebas dari guyuran air hujan dan sengatan matahari. Khayalan ini bisa menjadi nyata dengan hadirnya produk kanopi serat rami. Inovasi yang dilakukan Dedy Astika bisa jadi akan mengurangi ‘penderitaan’ pengendara motor saat musim hujan datang. Anita Surachman
Musim hujan sering dianggap ‘musuh’ oleh para pengendara sepeda motor. Saat musim ini tiba, aktifitas menjadi terganggu. Mereka terpaksa berteduh untuk menghindari guyuran air hujan. Atau bisa juga menggunakan mantel atawa jas hujan. Cara ini terbilang cukup efektif, meski sering merasa ribet saat harus memakainya. Begitu hujan selesai, jas hujan pun tak lagi digunakan. Masalah baru muncul ketika panas matahari menyengat tubuh. Lalu, bagaimana untuk mengatasinya?
Andai saja, sepeda motor yang kita gunakan bisa melindungi dari guyuran air hujan serta sengatan panas matahari? Tentu akan lebih nyaman. Anda mestinya tidak sedang mengalami delusive (khayal), karena hal itu bisa diwujudkan. Pasalnya, kini tercipta produk baru yang berfungsi sebagai pelindung dari cuaca panas sekaligus iar hujan. Ringkas dan praktis. Sebagaimana yang diperkenalkan oleh Dedy Astika, alumnus Universitas Islam Indoanesia (UII) Yogyakarta. Dedy membuat sebuah hasil inovasi berupa kanopi dari bahan serat alam rami yang diperuntukkan bagi pengendara sepeda motor.
Ide membuat kanopi, muncul dari M. Ridwan, ketua jurusan di tempatnya kuliah. Didasari oleh fakta bahwa Indonesia mengenal dua musim: peghujan dan kemarau yang sama-sama tidak menguntungkan buat pengendara motor. Selain itu jugakarena faktor jarak tempuh yang cukup jauh antara rumah dan kampusnya yang mencapai lebih dari 40 km. Hal ini yang akhirnya mendorongnya untuk merealisasikam membuat aksesoris bagi pengendara sepeda motor untuk melindungi dan panas dan hujan. “Apabila kita memakai jas hujan maka akan terasa repot dan faktor keamanan juga akan berkurang. Ada kemungkinan jas hujan masuk ke rantai motor,” kata Dedy.
Pada tahun 2007, salah seorang mahasiswa di kampusnya pernah ada yang membuat master produk untuk pertama kali. Tetapi menurut Dedy, pada waktu itu produk yang dibuat masih terasa berat dan kurang sempurna. Maka, di tahun yang sama, tepatnya pada bulan November, dibentuklah team untuk penyempurnaan kanopi tersebut. Dalam tim itu terdapat 18 orang yang masing-masing individu meneliti sekaligus menjadikannya sebagai bahan untuk tugas akhir. “Pada saat itu ada yang menangani argonomi, ada yang terowongan angin, ada yang pembuatan untuk delivery, ada yang mengurusi pengukuran digital. Dan saya sendiri menangani pembuatan kanopi menggunakan serat alam rami dengan campuran poliester yang dibentuk melalui molding (cetakan),” tuturnya.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 91/ Januari 2009.


Hermada, Bukan Hanya Untuk Ternak Tetapi Juga Baik Bagi Anak-Anak

Sampai sejauh ini, Hermada (sorgum) tetap dianggap sebagai pakan ternak, sama halnya dengan bulgur. Padahal, dari akar hingga biji, dapat dimanfaatkan. Sehingga, ia ditempatkan sebagai bahan pangan dunia nomor lima setelah gandum, padi, jagung dan barley. Russanti Lubis
Hermada merupakan tanaman rumput-rumputan atau berasal dari keluarga yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah grass. Dengan demikan, Hermada memiliki “kekerabatan” dengan padi, tebu, jagung, ilalang, sejenis sorgum, dan sebagainya.
Hermada merupakan kependekan dari Harapan Masa Depan. Pemberian nama tanaman perdu yang bernama Latin sorgum bicolor ini, mengandung pengertian bahwa setiap bagian tanaman ini memiliki manfaat.
Hasil pelatihan dan penelitian selama berbulan-bulan pada tahun 1999, yang diikuti Rindartati Soedimulyo menunjukkan bahwa biji tanaman yang semula hanya digunakan sebagai pakan ternak ini, ternyata memiliki serat yang tinggi, sehingga hasil olahannya bagus untuk dikonsumsi para penderita diabetes dan kolesterol, serta meningkatkan nafsu makan anak-anak balita (bawah lima tahun) yang susah makan. Selain itu, juga dapat diolah sebagai makanan tambahan pendamping ASI (Air Susu Ibu) bagi ibu-ibu yang sedang menyusui. Karena, mengandung karbohidrat dan protein yang tinggi.
Tangkainya dapat digunakan untuk membuat kerajinan tangan dan sapu dengan kualitas ekspor. Daunnya dapat digunakan sebagai pakan ternak, sehingga meningkatkan produksi peternakan, terutama hewan potong. Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar (etanol) dan bahan pembuat bubur kertas (pulp). Sedangkan akarnya dapat diolah menjadi minuman kesehatan. “Dengan demikian, dari bawah sampai ke atas, Hermada dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” kata Rien, begitu ia disapa.
Lalu, mengapa baru sekarang pemerintah menjadikan Hermada sebagai bahan pokok dasar pengganti dan pendamping beras dan terigu? “Mungkin, karena dulu masyarakat menyamakan tanaman yang juga dikenal dengan istilah sorgun ini dengan bulgur. Sedangkan bulgur identik dengan pakan ternak alias makanan murahan. Karena itulah, saya berusaha menunjukkan bahwa sorgum memiliki banyak kelebihan, dengan menjalin kerja sama dengan departemen pertanian (deptan), IPB (Institut Pertanian Bogor), dan BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional),” jelas kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, hampir 63 tahun silam itu.
Hermada, ia melanjutkan, dulu pernah ditanam di Indonesia, tetapi hanya untuk diambil tangkainya, sedangkan bijinya digunakan sebagai pakan ternak. Sehingga, masyarakat pun berpikir bahwa tanaman yang di Jawa dikenal dengan istilah cantel atau gondem ini, makanan murahan yang tidak ada artinya. “Sebab itulah, saya ingin mengangkat pamornya sebagai bahan pengganti terigu, dengan mengolahnya menjadi bahan dasar kue,” kata pemegang penghargaan UKM Pangan Award 2008 ini.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 89/ November 2008.

Mesin Es Krim Semi Otomatis Hasil Lebih Manis

Untuk memulai usaha tak perlu modal besar, cukup Rp20 juta Anda bisa menjadi pengusaha es krim. Kualitas produk tak kalah dengan pemain besar. Wiyono
Es krim. Kita pasti kenal dengan si lembut, dingin, terkadang dengan aneka rasa, topping, dan beragam variasi penyajiannya itu. Tetapi sudah tahukah jika sejatinya terdapat dua jenis es krim? Menurut Henry Gustaaf Emmanuel Permis Levyssohn secara garis besar ada yang dinamakan soft ice cream serta hard ice cream. Kelompok pertama memiliki komposisi fat lebih tinggi sehingga sudah pasti lebih lembut. Untuk membedakannya, jika sisa es krim yang menempel di dalam pinggiran wadah tebal, berarti ice cream tersebut adalah soft ice cream, sebaliknya jika mengumpul di dasar gelas serta cair itu artinya hard ice cream.
Faktanya pengetahuan orang tentang ice cream pada umumnya sangat rendah. Pecinta es krim pun belum tentu mengetahui karakter jenis-jenis es krim yang telah disantap selama bertahun-tahun. Oleh karena itu bila ingin menjadi produsen ice cream profesional, pengembang mesin-mesin es krim skala rumahan dan industri menengah itu menyarankan hendaknya mereka telah menguasai kedua jenis es krim tersebut.
Adapun jenis mesin rancangan Henry Gustaaf tidak lain Mesin Hard Ice Cream 24 liter diberi merek Gustaaf®. Sementara itu untuk mesin soft ice cream, ia mengajarkan pelatihan pembuatannya dengan menggunakan mixer dengan konsep handmade ice cream. Keistimewaan mesin buatannya itu, seperti dikatakan, justru karena tetap mempertahankan keasliannya sebagai mesin es krim tradisional Eropa (semi otomatis) yang tidak boros listrik.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 88/ November 2008.




Budidaya Sidat, Pasar Mancanegara Lebih Memikat
Pantai Selatan Indonesia menyediakan bibit sidat secara melimpah dan cuma-cuma. Pasar luar negeri pun siap menampungnya bahkan berani mematok dengan harga tinggi. Namun hingga saat ini pembudidaya sidat masih sepi peminat. Peluang yang disia-siakan?Russanti Lubis
Kelezatan olahan belut bisa jadi banyak yang sudah membuktikannya. Tapi bagaimana dengan sidat? Mendengar nama binatang ini, mungkin sebagian dari Anda ada yang mengernyitkan dahi. Bisa dimaklumi, selain jarang dijumpai di pasar ikan, karena harganya yang tergolong mahal, sidat ternyata kalah popular dengan saudaranya yakni belut.
Meski terlihat mirip, menurut Halim, sidat bukan belut. Secara fisik belut memiliki bentuk kepala lancip dan bulat, sedangkan hewan yang juga dikenal dengan nama moa ini mempunyai bentuk kepala segitiga, badan berbintik-bintik, dan ekor yang mirip ekor lele. Sidat juga bukan belut berkuping. Karena, yang selama ini dianggap telinga, sebenarnya adalah sirip.
Dilihat dari ukurannya, panjang tubuh belut akan mentok di kisaran 60 cm. Sedangkan panjang sidat berkisar 80 cm−100 cm (sumber lain menyatakan, panjang sidat bisa mencapai 125 cm, red). Bobot terberat binatang ini juga bisa menyentuh angka 1 kg. Bahkan, di Pulau Enggano, Propinsi Bengkulu beratnya bisa sampai 10 kg!
Uniknya, permintaan akan sidat justru lebih banyak datang dari luar negeri terutama negara di kawasan Asia Timur. “Untuk pasar ekspor, dulu sidat yang diminta seberat 200 gr−250 gr. Sekarang permintaan lebih banyak untuk sidat yang beratnya lebih 500 gr tapi kurang dari 1 kg. Harga belinya Rp90 ribu, tapi kami menawarkan Rp120 ribu per ekor,” ujar pria, yang biasa disapa Pak Haji ini.
Untuk baby sidat, Pak Haji melanjutkan, pasar ekspor berani membayar Rp700 ribu−Rp900 ribu per kilogramnya lebih tinggi dari pasar lokal yang mematok harga Rp400 ribu−Rp600 ribu per kilogramnya. “Satu kilogram berisi 5 ribu−7 ribu ekor baby sidat berumur sehari dan berukuran 2 inci," jelas supplier sekaligus pelatih pembesaran sidat ini.
Benih sidat yang disediakan oleh alam secara gratis dan melimpah ini, dapat diperoleh di sepanjang Pantai Selatan hingga Filipina. Hewan tersebut sering muncul ke permukaan pantai saat tak ada cahaya bulan. "Dulu, saya memperolehnya di Cilacap. Tapi, ukurannya agak besar. Sementara, untuk yang masih baby, banyak terdapat di sepanjang Pantai Selatan," kata kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 67 tahun lalu itu.
Di samping yang bermotif polos, ia menambahkan, ada juga sidat (Latin: Anguilla Sp, red.) yang bermotif kembang, yang banyak dijumpai di Indonesia Bagian Timur. "Rasanya sih sama saja, sangat gurih. Karena, ia mengandung minyak dan protein tinggi," ucap Pak Haji, yang memiliki stok 1 ton sidat jenis Anguilla Marmorata ini.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 96/Juli 2009.

Kocek Melimpah dari Beternak Lintah

Dibalik wujudnya yang menjijikan, lintah rupanya memiliki khasiat membantu menyembuhkan berbagai penyakit. Selain itu, jika dijadikan sebagai sebuah bisnis prospeknya sangat cerah karena omzet yang dihasilkan sangat berlimpah. Tidakkah Anda tertarik?Russanti Lubis
Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali... Dari mana datangnya cinta. Dari mata turun ke hati. Anda tentu ingat sepenggal bait pada sebuah lagu lawas yang beraroma cinta, bukan? Tapi, bukan soal lagu tersebut yang akan kita bahas, melainkan tentang lintah itu sendiri. Orang sering menyamakan lintah dengan pacet. Padahal, meskipun mirip keduanya punya banyak perbedaan. Pacet banyak ditemui di pegunungan, hutan dan tempat-tempat lain yang notabene berhawa lembab. Sedangkan lintah banyak di jumpai di areal persawahan. Selain itu, meski sama-sama bertahan hidup dengan mengisap darah binatang lain atau manusia, pacet tidak berfungsi menyembuhkan. Sebaliknya, lintah bukan hanya penyembuh, melainkan juga dapat digunakan sebagai sarana kecantikan.
Karena kegunaannya itulah, entah sejak kapan binatang bertubuh empuk dan berlendir ini diternakkan. Sementara, untuk menternakkannya sendiri ada dua hal yang melatarbelakanginya. Pertama, kalangan medis, terutama dari mancanegara, meyakini bahwa lintah yang diternakkan lebih terjamin kesehatannya (baca: kebersihannya, red.). Salah satu alasannya, karena minimal sebulan sekali air di kolam penampungannya diganti. Kedua, sejak domisili asli lintah yaitu sawah dimoderenisasikan, maka hewan ini pun menghilang.
Untuk membudidayakan satwa penyembuh (hirudo medicinalis) ini, boleh dibilang gampang-gampang susah. Dikatakan gampang, sebab karnivora, bahkan beberapa di antaranya merupakan predator, ini cukup diberi makan belut dan berbagai jenis invertebrata (binatang tidak bertulang belakang, red.) lain, seperti cacing, siput, dan larva serangga. Binatang-binatang ini di habitat aslinya merupakan makanan utama lintah.
“Dengan belut sebanyak 1 kg yang diberikan satu bulan sekali, lintah-lintah ini akan bertahan hidup hingga tujuh bulan ke depan. Tapi, peternak lintah biasanya akan memberi mereka makan 2−4 minggu sekali, sebanyak 2−3 kg belut. Karena, misi kami bukan sekadar agar binatang itu bertahan hidup, melainkan juga supaya cepat besar dan panjang. Sehingga, semakin cepat pula dipanen. Meski, lintah sebenarnya baru layak jual atau mampu menjalankan fungsinya, ketika berumur minimal enam bulan atau berukuran 6−8 cm,” jelas Salim, peternak lintah di kawasan Sawangan, Depok.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 101/Desember 2009.






Gideon: Hidup Sesuai Amanah Tuhan
Pengalaman hidup telah mengajarkan berbagai kearifan pada diri manusia. Kearifan inilah yang membimbing langkah Gideon dalam menjalankan roda bisnis. Russanti Lubis

Pengalaman hidup yang berkesan di masa lalu, adakalanya menginspirasi seseorang untuk menggeluti profesi yang dijalani saat ini. Hal ini juga terjadi pada Gideon Hartono. Saat masih duduk di bangku kelas 1 SMA, pemilik jaringan Apotik K24 ini menderita penyakit gondongan yang membuatnya sulit membuka mulut sehingga tidak bisa makan, sulit berbicara, dan badan meriang. Tetapi, hanya dengan sekali suntikan, tak lebih dari 10 menit sang dokter yang didatanginya mampu membuatnya terbebas dari segala penderitaan tersebut.

“Ketika itu terpikir betapa mulianya tugas seorang dokter. Karena, ia mampu menghilangkan penderitaan (yang ditimbulkan oleh penyakit) semua orang dan membuat mereka bahagia lagi. Seketika itu juga saya bercita-cita menjadi dokter,” kata Direktur Utama PT K-24 Indonesia ini.
Hal itu tentu tidak muskil dicapai oleh lulusan SMA Collese De Britto, Yogyakarta, dengan rangking 1 ini. Sebab, dengan ranking itu ia berhak masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur khusus, yang sekarang dikenal dengan nama Penelurusan Minat Dan Kemampuan. Di sisi lain, penggemar fisika ini hatinya bercabang. Gideon yang bersama kedua teman SMA-nya pernah membuat buku soal-soal fisika dengan judul The Green Book of Physics Problems ini, juga ingin masuk ke ke Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA).
Namun, seperti ungkapan manusia berencana Tuhan menentukan, karena satu dan lain hal ia gagal masuk ke Fakultas Kedokteran (FK), satu-satunya fakultas yang ia pilih meski sebagai siswa di jurusan paspal (sekarang IPA, red.) ia berhak memilih tiga fakultas yang berbeda. Dengan demikian, F-MIPA yang juga diminati tapi tidak pernah dipilihnya, lepas pula dari genggaman. “Setelah kejadian itu, saya merasa seperti diperingatkan agar jangan hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Masih ada kekuatan lain yang jauh lebih kuat yaitu kekuatan Tuhan,” ujar dokter lulusan FK Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, ini. Untuk mengisi waktu yang ada sebelum mendaftar kembali tahun berikutnya, anak kelima dari tujuh bersaudara ini kuliah di PAT (Pendidikan Ahli Teknik, milik Fakultas Teknik-UGM, red.). “Soalnya, masih berhubungan dengan fisika,” lanjutnya, sambil tersenyum.

Tahun 1983 ia mendaftar kembali dan diterima di FK-UGM. Seperti aturan pemerintah yang berlaku saat itu, setahun setelah meraih gelar sarjana kedokteran (1990) ia diharuskan menjadi pegawai negeri sipil di bawah Departemen Kesehatan RI. Hal ini bisa dimaklumi, bila Gideon adalah pribumi asli. “Dalam hal ini saya merasa sebagai orang yang beruntung, padahal saat itu zamannya orde baru loh,” ucap lelaki yang nenek buyutnya baik dari pihak ibu maupun ayahnya berdarah Jawa asli.
Tapi, keberuntungannya ternyata hanya berhenti sampai di situ, meski mendapat dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya, mantan Kepala Puskesmas Umbulharjo I, Yogyakarta, ini harus kembali gagal mengambil program dokter spesialis karena darah Cina yang mengalir di tubuhnya. Tak mau berlama-lama tenggelam dalam kekecewaan, mengingat ia tidak pernah membuka praktik dokter di rumah dan hanya mengandalkan gaji sebagai dokter puskesmas, kelahiran Yogyakarta, 44 tahun lalu ini segera mewujudkan plan B yaitu membuka usaha fotografi yang lebih moderen. Saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP, Gideon dan adik bungsunya pernah membangun bisnis studio foto secara apa adanya di garasi rumah mereka, yang dinamainya Agatha Photo. Bisnis inilah yang kemudian dikembangkannya menjadi lebih moderen sekaligus sebagai ladang nafkah sampingannya.
Dari mana modalnya? “Dari SMP, saya sudah menyukai dan menekuni dunia fotografi. Saya memiliki 30 piala dan medali sebagai hasil berbagai lomba foto baik tingkat regional maupun nasional, yang saya ikuti. Hadiah memenangkan lomba-lomba foto dan utang ke paman saya itulah modal saya membangun Agatha Photo,” kata pria yang masih menyimpan obsesi sebagai dokter spesialis mata ini. Selanjutnya, ia membangun Agatha Video bersama Inge Santoso, dokter gigi yang kemudian menjadi istrinya. “Saya menjadikan Agatha Photo sebagai bisnis keluarga saya yang kemudian saya serahkan kepemilikannya kepada orang tua dan adik bungsu saya. Sedangkan Agatha Video sepenuhnya bisnis saya dengan calon istri saya saat itu. Kini keduanya berkembang sama bagusnya. Bahkan, Agatha Video sudah memiliki cabang di Semarang,” tambahnya.

Untuk menambah lagi keuangan keluarganya, bapak dua putra ini juga melirik bisnis apotik yang beroperasi 24 jam, tetapi harga obat-obatan yang dijual sama dengan apotik “biasa”. “Saya ingat, dulu itu sulit sekali mencari obat di apotik pada tengah malam buta. Kalau pun ada apotik yang beroperasi 24 jam, maka harga obat-obatan yang dijual jauh lebih mahal,” kata Gideon yang karena kesibukannya sebagai wirausaha, akhirnya mengundurkan diri sebagai PNS terhitung April lalu. Melalui bisnis apotik yang dinamainya Apotik K24, ia ingin menularkan harmoni di tengah kemajemukan bangsa. “Apotik merupakan wahana bertemunya orang-orang dari berbagai latar belakang. Hal ini, juga terlihat dari logo Apotik K24 yang didominasi warna hijau sebagai penggambaran Islam yang merupakan agama yang dianut sebagian besar rakyat Indonesia. Merah berarti Nasrani yaitu agama kedua terbanyak penganutnya di sini. Kuning untuk menggambarkan Cina sebagai etnis yang mendominasi perekonomian negara. Sedangkan putih merupakan pihak-pihak lain di luar itu yaitu Hindu, Budha, dan etnis-etnis lain di Indonesia,” jelas laki-laki yang tahun lalu, atas usulan sekelompok masyarakat, mengikuti Pilkada Wakil Walikota Yogyakarta dan gagal. “Apakah saya akan mencobanya lagi nanti? Bagaimana rencana Tuhan sajalah,” imbuhnya. Ya, hidup manusia memang bagian dari rencana Tuhan. (adv)

Dari Lumpur Hingga SPBU
Menapaki jenjang dari seseorang penjual es kelapa muda, Urpan Dani sukses mendirikan beberapa perusahaan. Kiatnya; keikhlasan dan doa. Sukatna
Kru sebuah production house sedang sibuk menyorotkan kamera untuk merekam beberapa adegan di sebuah rumah di Citra Gran Blok E17 No. 6 Cibubur.
Beberapa adegan dari sinetron tersebut memang mengambil lokasi di rumah Urpan Dani, pendiri beberapa perusahaan yang bergerak di bidang lumpur pengeboran, eksportir kayu manis, pemasok pasir, pengelola SPBU Petronas dan jual-beli properti.
Namun kisah sukses Urpan bukanlah sebuah kebetulan, seperti yang banyak terjadi dalam kisah-kisah sinetron kita. Sebelum memiliki beberapa perusahaan Urpan harus berjuang keras, bahkan sempat menjadi penjual es kelapa muda di Pintu II Senayan, dan menjual penjual tempe goreng. Semuanya dilakoni dengan ikhlas.
Sebenarnya, setamat kuliah di Fakultas ekonomi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta pada tahun 1989, pria kelahiran tahun 1964 ini sempat diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Departemen Koperasi di tanah kelahirannya Kerinci. Tetapi ia mengaku tidak berminat menjadi PNS. Justru Urpan pergi ke Jakarta ikut pamannya.
Lantaran tidak setuju dengan pilihan anaknya, orangtua Urpan tidak mengirimi uang belanja sehari-hari. Tetapi Urpan tidak menyerah begitu saja. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari ia harus berjualan es kelapa muda, kemudian menjadi penjual tempe goreng.

Di sela-sela menekuni ‘profesinya’ itu, Urpan mengirimkan lamaran ke sejumlah perusahaan. Sempat tes di Pertamina sampai tahapan ketiga, tetapi akhirnya gagal. “Jumlah lamaran sampai 300 lebih,” ungkap Urpan belum lama ini.
Dari salah satu lamarannya, Urpan diterima di sebuah perusahaan lumpur pengeboran yang kantor pusatnya di Jakarta. Tetapi Urpan ditempatkan di Palangkaraya. Pada pagi hari, Urpan menyelesaikan pekerjaan kantor. Di siang harinya, belajar mengoperasikan alat-alat berat, dan sore harinya belajar mengelas. Praktis tidak ada waktu luang untuk Urpan.
Tak lama berselang, Urpan ditarik ke Jakarta tetapi ditempatkan di pabrik. Di pabrik Urpan banyak belajar, mulai dari memproduksi bahan-bahan pendukung lumpur pengeboran sampai mengelas plastik. Ia ingin menyerap semua ilmu tersebut. Ia yakin ilmu itu akan berguna kelak di kemudian hari. Keyakinannya tidak meleset. Prestasinya terus melesat, hingga akhirnya dipercaya menjadi general manager yang mengurusi semua kebutuhan perusahaan dari A sampai Z.
Di tengah karirnya yang terus menanjak, Urpan menyunting anak mantan bupati Kerinci, Gladia Rahmawati, pada tahun 1995. Dalam posisinya sebagai general manager, sering Urpan mengambil keputusan-keputusan penting diantaranya memilih rekanan perusahaan. Ternyata banyak rekanan perusahaan yang memberikan ‘uang terimakasih’. Hal ini justru membuatnya tidak nyaman. Hal ini ia sampaikan ke pemilik malah berujar,” ambil saja uang itu. Keuntungan perusahaan lebih besar daripada yan kamu dapatkan.”
Urpan merasa tidak nyaman. Ia berkeputusan untuk mengundurkan diri. Sebelum mengundurkan diri pada tahun 1997, Urpan melakukan sholat istikharah, untuk meminta petunjuk kepada Allah. Tak lupa ia meminta dukungan dari keluarganya maupun dari keluarga istrinya. Tak satu pun yang setuju ia mengundurkan diri, kecuali satu orang, yakni istrinya. Setelah sholat istikharah beberapa malam, Urpan mengambil keputusan bulat : mengundurkan diri dan siap-siap mendirikan usaha jual-beli mobil bekas.
Ternyata menjadi pengusaha itu tidak semudah membayangkannya. Usaha jual beli mobil bekas yang ia dirikan pada tahun 1997 dengan menggunakan bendera PT. Salsabila Rizky Pratama nyaris macet. Mobil-mobil terlanjur ia kirimkan ke Jambi untuk dijual ternyata seret. Tetapi ia sudah tidak bisa mundur lagi. Mobil-mobil itu ia tarik kembali ke Jakarta dan ia jual di Lapangan Ros dan Kalibata indah. Pada tahun-tahun awal hasilnya lumayan. Penjualan terus meningkat.
Di sela-sela mengiklankan mobil dagangannya, Urpan juga mengiklankan kayu manis dan menjalankan bisnis lumpur pengeboran, meski masih kecil-kecilan. Beberapa orang memesan kayu manisnya tetapi ternyata kebanyakan menipu. Setelah kayu manis dikirim, mereka tidak mengirimkan uangnya. Sudah jatuh tertimpa tangga, itu peribahasanya. Usaha kayu manis belum membuahkan hasil, bahkan ditipu, usaha jual-beli mobil bekasnya lesu. Apalagi, ia juga ditipu beberpa pedagang yan menjual mobil bodong. “Kerugian saat itu mencapai Rp. 250 juta,” tuturnya.
Di saat kondisi perusahannya letih lesu, Urpan justru mengambil keputusan untuk menunaikan ibadah haji bersama istrinya pada tahun 1991. Dengan uang seadanya, sebagian hasil pinjaman dari keluarganya, Urpan dan Gladia berangkat ke Tanah Suci.
Di Al-Mutazzam, Urpan berdoa dengan khusuk. Memohonkan ampunan untuk leluhurnya yang sudah meninggal serta meminta keselamatan dan kesehatan bagi keluarga yang masih hidup. Di akhir doa, ia meminta agar Allah menunjukkan jalan dan meridhoi usahanya. Tak lama berselang, telepon genggamnya berbunyi. Isi pesan yang dikirim adiknya mengatakan PT. Salsabila mendapatkan proyek lumpur pengeboran dari sebuah perusahaan ternama. “Doa saya dibayar tunai. Saking senangnya saya menangis sampai “nungging-nungging” ucap Urpan yang kini membina ribuan petani kayu manis di Kerinci. Dari Al Mutazzam inilah terjadi perubahan yang luar biasa pada perusahaannya.
Penjualan kayu manis, yang semula diniatkan untuk membantu mengangkat harga sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani, mulai membuahkan hasil. Usaha lumpur pengeboran yang tadinya kecil mulai menggurita. Bahkan untuk memperbesar pemasaran 35 item produk Lumpur pengeborannya, Urpan berpatungan dengan rekannya untuk mendirikan PT. Prima Hidrokarbon Internusa pada tahun 2002. PT. Salsabila menjual secara ritel dan PT. Prima Hidrokarbon masuk ke tender-tender besar. Selain memasok 35 item bahan pendukung Lumpur pengeboran, PT. Prima Hidrokarbon juga melakukan pengeboran sendiri.
Perusahaan terus menggurita. Keenam adik Urpan ikut terlibat untuk membesarkan usaha yang didirikan sulung dari tujuh bersaudara ini. Perusahaan yang memiliki kantor pusat di Cibubur dan pabrik di Karawang ini memiliki sekitar 800 karyawan. Ekspansi usaha terus dilakukan. Bisnis properti (membeli rumah kemudian merenovasinya) yang sebelumnya tidak dirambah mulai dimasukinya. Bisnis perkayuan juga mulai dimasuki. Semua bisnis ini ditangani oleh adik-adiknya.
Sekitar akhir tahun 2005 lalu, Urpan kembali mendirikan perusahaan pemasok pasir, PT Pasir Bumi Nusantara. Salah satu adiknya, Faizal Kadni dipercaya untuk menjalankan usaha tersebut. Dalam hitungan bulan saja, PT Pasir Bumi Nusantara mampu memasok pasir ke Cibubur dan Jalan Kali Malang sebanyak 600-800 kubik per hari.
Si bungsu, Faizin Kadni yang pilih tinggal di Yogyakarta mendirikan perusahaan travel PT. Radin Pratama yang mengusung bendera Radin Tour. “Keberhasilan bukan semata-mata diukur dari banyaknya materi, tetapi juga keberhasilannya dalam membimbing adik-adik dan merukunkan keluarga,” kata Urpan.
Urpan sendiri sering mengatakan bahwa usahanya masih kecil. Namun orang lain, melihat pria ini sosok yang sukses. Buktinya, salah satu rumah produksi meminjam rumahnya untuk dijadikan lokasi syuting. Pelanggan lumpur pengeborannya juga perusahaan ternama, di antaranya Pertamina. Sedangkan penjualan kayu manisnya sudah merambah negara-negara di seantero dunia.
Ketika ditanya kiat suksesnya, Urpan mengatakan keikhlasan dan doa. “Ikhlas bukan berarti kita menyerah terhadp keadaan. Dalam berbisnis kita tetap harus berusaha keras. Berusaha untuk menciptakan produk berkualitas dan berusaha mendapatkan order sebanyak-banyaknya. Walau kita sudah bekerja keras tetapi kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang ditargetkan kita harus ikhlas menerimanya. Itulah makna ikhlas yang saya maksud. Selain ikhlas adalah doa. Bagi saya doa itu yang pertama, baru kemudian berusaha. Tetapi banyak orang yang mengatakan berusaha dulu baru berdoa. Silakan, itu pilihan masing-masing orang. Dan jangan lupa, di balik keuntungan yang kita peroleh terdapat harta hak orang lain, diantaranya fakir miskin dan anak yatim piatu. Kalau kita memberikan hak-hak mereka Insya Allah rejeki kita lancar, seperti Salsabila (oase di surga yang airnya terus mengucur,” pungkas pria yang Agustus tahun lalu mengoperasikan SPBU Petronas di Lenteng Agung ini

Mada Azhari: “Passion Saya di Online”
Kegagalan mengelola beberapa bisnis menjadi pelajaran berharga bagi Mada Azhari. Kendati tidak memiliki latar belakang pendidikan media, ia punya ketertarikan yang besar terhadap bisnis media. Slamet Supriyadi
Usia muda selalu dipenuhi ide-ide kreatif. Termasuk semangat menyala-nyala yang seringkali membuahkan berbagai keputusan berani. Dalam banyak hal, para entrepreneur muda, khususnya, selalu berprinsip: cepat ambil keputusan, resiko belakangan. Karakteristik semacam ini sangat lazim dijumpai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mereka bahkan tak lagi memandang dunia bisnis sebagai ‘momok’ yang mesti ditakuti.
Keberanian. Itulah yang kerap diajarkan oleh Mada Azhari, pendiri sekaligus pemilik beberapa perusahaan. ”Saya sering menyarankan kaum muda untuk tidak takut terjun ke dunia bisnis. Pilihlah bisnis yang sesuai passion. Karena faktanya banyak pengusaha sukses yang lahir dari sana,” ujar Mada. Pria berusia 29 tahun ini tentu tidak asal bicara. Ia telah melewati beragam pengalaman bisnis dari yang manis hingga yang paling getir.
Ketika usaianya menginjak 24 tahun, misalnya, Mada ’dipaksa’ menerima tongkat estafet untuk melanjutkan bisnis percetakan yang telah dirintis orang tuanya. Sang ayah, meninggal secara mendadak karena sakit. Maka ia pun harus memikul tanggung jawab atas perusahaan yang sebenarnya sudah merangkak menjadi besar. Sebagai gambaran, dengan omzet mencapai ratusan juta, produknya sudah merambah ke berbagai negara. ”Salah satu produknya adalah stiker bir bintang yang sudah banyak dikenal masyarakat,” kata Mada sembari mengenang.
Namun semuanya berbalik. Keberhasilan yang telah dicapai dan dipupuk selama bertahun-tahun perlahan mulai surut. Mada yang selama ini hanya dilibatkan dalam urusan pemasaran, justru ditipu oleh orang kepercayaan ayahnya. Keterbatasan pengetahuan dalam hal produksi telah dimanfaatkan orang tersebut untuk membuat berbagai proyek fiktif yang merugikan perusahaan. Alhasil, kondisinya terus memburuk. Sampai akhirnya pada tahun 2004 perusahaan tersebut benar-benar bangkrut!
Beban hutang yang ditinggalkan sangat besar, bahkan mencapai ratusan juta. ”Bisa dibayangkan, saya yang masih berstatus mahasiswa harus menanggung kewajiban yang begitu besar. Saya banyak didatangi pihak bank, debt collector hingga para preman yang bertujuan menagih hutang. Benar-benar situasi yang tidak menyenangkan,” tutur Mada. Tapi ia tidak ingin lari dari tanggung jawab. Dengan modal keyakinan pelan-pelan hutang yang begitu besar akhirnya bisa dilunasi.
Itu bukan satu-satunya kisah sedih yang dialami Mada. Masih ada yang lain, tepatnya, ketika ia dan beberapa rekannya mengelola bisnis media dengan menerbitkan majalah Entrepreneur Indonesia (EI). Majalah tersebut awalnya hanya untuk konsumsi mahasiswa serta sebatas lingkungan kampus. Tapi lantaran penyajiannya yang menarik mampu membetot perhatian para pembaca umum.
Tapi apa yang terjadi kemudian? Keberhasilan EI ternyata mengusik media lain yang sudah ada sebelumnya. “Nama media tersebut ternyata sudah dimiliki oleh sebuah badan usaha di luar negeri. Majalah kami akhirnya disomasi. Tidak tanggung-tanggung, kami dituntut denda sebesar US$5 juta. Sebuah angka yang sepktakuler bagi kami para mahasiswa,” tandas alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Setelah berkonsultasi dengan pihak-pihak yang mengerti masalah hukum, Mada menyadari pihaknya kecil kemungkinan untuk memenangkan gugatan tersebut. Selain faktor besarnya gugatan, kasus ini juga masuk dalam wilayah hukum internasional. Artinya persidangan akan dilangsungkan di luar negeri. Maka, tak ada jalan lain, ia dan tim EI memutuskan untuk mengistirahatkan majalah yang sempat menyentuh oplah 5 ribu tersebut. Padahal, seperti diceritakan, beberapa perusahaan besar telah menjalin kerjasama diantaranya, Bank Rakyat Indonesia, Medco Energy, Antam maupun PT. Telkom.
Matinya EI tidak lantas membunuh kreatifitas mereka. Apalagi jejaring yang terbangun sudah sedemikian luas dan bisa menjadi modal penting dalam merancang kembali bisnis sejenis. “Saya sempat vakum beberapa waktu. Sampai akhirnya saya dan rekan-rekan tadi mencoba mendirikan perusahaan Media Citra. Sesuai namanya, kita ingin memberi kontribusi bagi sejumlah korporasi agar citranya kian positif. Bentuknya berupa media internal,” kata pria kelahiran 10 November 1980 ini.
Konsep media internal yang ditawarkan rupanya menarik minat korporasi besar seperti Bakrie. Mereka adalah klien pertama yang menggunakan jasa Media Citra dan berlanjut hingga sekarang. Selanjutnya, sejumlah klien lain mulai bergabung antara lain Arutmin, Bumida, Medco, dan lain-lain. Seiring meningkatnya kinerja dan pamor Media Citra, maka mulai banyak investor yang tertarik meminangnya. Ibarat kembang, Media Citra dikerubuti banyak kumbang.
Kondisi demikian sudah pasti memberikan kebanggan bagi para pendiri, termasuk Mada. Kendati begitu, mereka menyadari akan dampak dari perubahan yang terjadi. "Dengan masuknya beberapa invetor maka saham kami menjadi minoritas. Tapi kami puas bisa membesarkan perusahaan tersebut," kata Mada yang kini menjabat sebagai salah satu komisaris ini.
Kreativitas Mada tidak lantas mandek sampai disitu. Ia kemudian merancang untuk membesut perusahaan lain. Maka lahirlah Inventco Netmedia. Sebuah internet marketing company yang membantu mengarahkan agar sebuah web bisa dikunjungi ribuan traffic setiap harinya. Namun strategi komunikasi pemasarannya ditentukan berdasarkan target audience. Dengan menentukan keyword secara tepat secara geo targeting maka akan diperoleh hasil yang efektif. “Jadi ada semacam online campaign,” tandas Mada yang menjabat CEO Inventco Netmedia ini.
Responnya cukup besar kendati ia menyadari bahyak perusahaan di Indonesia yang belum aware terhadap internet. “Untuk CEO yang usianya di bawah 35 tahun, atau General Manager yang berusia antara 20-30 tahun biasanya gampang menangkap gagasan perusahaan kita. Tapi kalau usianya di atas 50 tahun agak repot karena urusannya diserahkan ke anak buah,” ujarnya sedikit mengilustrasikan. Meski terbilang sulit, toh beberapa perusahaan besar sudah memutuskan menjadi kliennya. Sebut saja, Padang Digital, Tropicom Utama Furniture, Sampoerna A Mild, Bakrie telecom serta beberapa lainnya.
Tidak puas hanya mengelola Inventco, Mada juga dipercaya mengelola versi online PassionMagz.com. Menurut pria yang menjabat Chief Editior ini, awalnya memang berbentuk majalah yang dikelola oleh sebuah agency. Tapi Januar Darmawan, sang pemilik, memutuskan untuk menutup majalah tersebut dan mengganti menjadi online.
Jika dicermati hampir sebagian besar bidang yang digeluti Mada selalu berkutat dengan media, khususnya online. “Passion saya memang di online,” tegasnya. Lantas apa yang ingin dicapai. “Tergetnya tidak terlalu muluk. Saya hanya berharap Inventco bisa menjadi perusahaan internet marketing terbesar yang bakal diperhitungkan,” pungkas Mada yang juga menjadi mengelola online lintasalumni.com tersebut.

Jika ingin mengutip atau menyebarluaskan artikel ini harap mencantumkan sumbernya.s8





Nasib Membubung Bersama Ikan Asap
Sejauh ini, ikan masih dipandang kalah gengsi dibandingkan ayam, sapi, kerbau, dan kambing. Tapi, setelah diolah menjadi ikan asap ala Amril, lauk siap makan ini mampu menembus pasar swalayan besar, bahkan melanglang buana. Russanti Lubis
Sebagian besar anggota masyarakat berpikir bahwa makan daging ayam, sapi, kambing, atau kerbau lebih bergengsi dibandingkan makan daging ikan, mengingat harga daging keempat hewan tersebut di atas jauh lebih mahal daripada daging ikan. Padahal, meski lebih murah, ikan juga sama gurih dan lezatnya dengan ayam, sapi, kambing, dan kerbau.
Selain itu, ikan juga mengandung sejumlah khasiat bagi tubuh karena mengandung di antarnya omega-3 yang merupakan komponen penting dalam pembentukan otak dan omega-6 yang dapat menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.
Di sisi lain, di luar sana telah terjadi pergeseran menu makanan yaitu dengan beralih ke makan ikan. Untuk itu, agar orang-orang mau makan, satwa air ini diolah menjadi berbagai menu makanan. Bukan sekadar dibakar, digoreng, digulai, atau dipepes melainkan juga diolah menjadi ikan asap. Bertolak dari hal itulah, H. Amril Lubis mengolah ikan asap di “pabriknya” yang terletak di Citayam, Bogor.
Namun, berbeda dengan pengolahan ikan asap pada umumnya yang masih bersifat home industry dan memakan waktu 24 jam–26 jam, ikan asap hasil karya Amril hanya membutuhkan waktu empat jam demi alasan efisiensi, tanpa mengurangi kelezatan rasanya. Keuntungan lain dari hasil karyanya ini yaitu rasio ikan yang dihasilkannya yaitu 1:1,8 (1 kg ikan asap dihasilkan dari 1,8 kg ikan segar) padahal aslinya 1:5 (1 kg ikan asap dihasilkan dari 5 kg ikan segar). “Tapi, dengan alasan ekonomis, biasanya saya 1:3 (menghasilkan 1 kg ikan asap dari 3 kg ikan segar). Dengan cara ini, kadar gizi ikan asap saya juga lebih tinggi,” jelasnya.
Pada dasarnya, ia melanjutkan, semua jenis ikan dapat diasapi, terutama yang berdaging tebal, seperti ikan patin dan ikan lele (ikan tawar) serta ikan marlin, ikan tuna, dan ikan cakalang (ikan laut). “Ikan-ikan segar yang kami ambil dari Muara Angke dan Muara Baru tersebut, kami olah secara tradisional. Dalam arti, tidak menggunakan bahan kimia dan bumbu apa pun, sehingga ikan yang dihasilkan asli rasa ikan tersebut. Singkat kata, ikan asap itu lezat karena daging ikan itu memang enak. Nah, untuk menambah kelezatannya, saya sarankan untuk menyantapnya cukup dicocolkan ke sambal instan atau sambal kecap,” ujarnya.
Lauk siap makan ini, juga mampu bertahan selama setahun dan aman atau terbebas dari bau busuk, sebab disimpan dalam lemari pendingin bersuhu –15° C. Untuk menyantapnya harus dipanaskan dalam oven/microwave atau dikukus terlerbih dulu. Dengan merek dagang Aneka Ikan Asap Citayam yang diproduksi oleh Petikan Cita Halus, produk ini dapat dijumpai di UKM Center Tanah Abang, Jakarta Pusat, dan Giant-Hero dengan harga Rp48 ribu–Rp80 ribu/kg (dalam bentuk curah), Rp15 ribu–Rp20 ribu (untuk kemasan 205 gr).
Namun, dengan pemasaran ke seluruh Indonesia melalui pasar swalayan tersebut dan Uzbekistan, Kyoto, serta Kuala Lumpur, omset yang dikumpulkan Amril jauh lebih kecil dari yang diharapkan. “Sebagai UKM, saya masih membutuhkan dukungan dana dan pemasaran,” kata Amril, yang dalam waktu dekat ini produknya juga dapat dijumpai di Makro dan Carrefour.
Merunut ke belakang, setelah pensiun dari sebuah perusahaan perminyakan (tahun 2001), Amril ingin membuka usaha pembenihan ikan di 11 kolam ikannya yang masing-masing seluas 23 m² x 13 m². Di kolam-kolam tersebut, ia menebarkan benih-benih ikan emas, patin, gurame, bawal, nila, lele, dan tembakang, masing-masing sebanyak 10.000 benih. Sekadar informasi, waktu itu, harga 10.000 benih ikan hanya Rp1 juta.
“Saya bukan ahli perikanan tetapi cuma ingin berbisnis pembenihan ikan. Imbasnya, saya terkaget-kaget ketika 8–9 bulan setelah benih ditebarkan, saya harus memanen 5 ton ikan. Meski sudah dimanfaatkan dengan berbagai macam cara dan dibagikan kepada para tetangga, ikan-ikan ini tetap tidak habis,” tutur alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi YAPPAN, Jakarta, ini.
Untuk mendapatkan nilai tambah, pada pesta ulang tahun putrinya (tahun 2002), ia mengolah ikan-ikan tersebut menjadi ikan asap yang sebagian dibagikan kepada para tetangga. Komentar mereka, ikan asap itu enak. Selanjutnya, ia membagikan ikan-ikan asapnya ke mantan teman-teman kantornya. “Hasilnya, mereka langsung memesan 2 kg–3 kg,” ujar kelahiran Lubuk Sikaping, Sumatra Barat, 62 tahun lalu itu.

Kabar tentang kelezatan ikan asapnya sampai di telinga tetangganya yang lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB). Selanjutnya, pada tahun 2003, Amril diajak untuk bertemu dengan dosennya guna mempresentasikan ikan asapnya. “Saya berharap dengan pertemuan tersebut, bila nantinya saya akan mengkomersialkan ikan asap ini dan ada konsumen yang komplain, maka saya bisa memberikan jawaban,” katanya. Hasilnya, ia diangkat menjadi 43 UKM binaan IPB dan beberapa hari kemudian ia diundang untuk mengisi stand dalam acara ulang tahun IPB.
Pada tahun 2004, dengan modal nekad, Amril mengikuti pameran produk ekspor di Kemayoran. Dalam acara tersebut, brosur dan kartu namanya sampai ke tangan ajudan Megawati yang waktu itu menjabat presiden dan membuka pameran itu. Tiga hari kemudian, ia diundang secara resmi untuk menghadiri acara yang dihadiri para atase perdagangan RI di luar negeri.
Pada akhirnya, usaha main-main ini berubah menjadi bisnis keluarga, yang menyerap 25 tenaga kerja dari kalangan anak-anak putus sekolah dan mantan anak jalanan. Dengan bantuan mereka dan empat dapur pengasapan, usaha ini setiap hari mampu memproduksi 1 ton ikan asap. Sayangnya, tidak semuanya dapat diserap pasar. “Hingga akhirnya pemerintah memberi saya tempat di UKM Center Tanah Abang ini agar dapat diketahui masyarakat luas,” ungkapnya.
Sekitar Bulan Juli/Agustus 2005, ketika ia diundang Departemen Koperasi dan UKM untuk mengikuti pameran di Gedung SPC, salah seorang staf Giant-Hero mengambil brosur produknya. Selanjutnya, ia diundang ke sana. “Berdasarkan kesepakatan, saya harus memasok ikan pari asap sebanyak 5 kwintal per minggu,” ujarnya. Tapi, karena pasar swalayan ini tidak mampu menjualnya, permintaan akan ikan pari asap hanya berjalan tiga bulan dan selanjutnya diganti dengan berbagai ikan asap lain, seperti ikan marlin, cakalang, tuna, dan kakap merah. Selain itu, Amril juga akan mengirim pesanan ke Belanda sebanyak 5 ton lele asap per bulan dan 18 ton semua jenis ikan asap ke Timur Tengah melalui Singapura.
Apa pun kendalanya, ikan asap yang dianggap produk etnik oleh masyarakat mancanegara ini, memiliki masa depan sangat bagus. Apalagi trend masyarakat sekarang yang tidak hanya makan makanan yang enak tetapi juga sehat. Jadi tidak salahnya menjadikan ikan asap sebagai solusinya.
Keunggulan Ikan Asap Olahan Amril
- Ikan asap ini hanya membutuhkan waktu pengolahan empat jam (umumnya 24–26 jam).
- Rasio ikan yang dihasilkan 1:3 (1 kg ikan asap dari 3 kg ikan segar), umumnya 1:5 (1 kg ikan asap dihasilkan dari 5 kg ikan segar). Dengan cara ini, kadar gizinya lebih tinggi.
- Ikan asap ini tidak menggunakan bahan kimia dan bumbu apa pun, sehingga kelezatan rasa ikan yang dihasilkan asli dari rasa enak ikan tersebut.
- Lauk siap makan ini mampu bertahan selama setahun dan aman atau terbebas dari bau busuk, sebab disimpan dalam lemari pendingin bersuhu –15° C.
Jika ingin mengutip atau menyebarluaskan artikel ini harap mencantumkan sumbernya.


Ban dan Sparepart RC Dari Cibarusah
Lewat tangan dingin Asep, kini pehobi radio control bisa menikmati aksesoris dengan harga kompetitif. Produk Pro Champ nya kini telah diekspor ke-23 negara.
Wiyono
Radio control (RC) sebagai wahana mainan bergengsi bagi kalangan menengah ke atas kini semakin populer saja. Tidak hanya di Jakarta, mainan miniature mobil, pesawat hingga kapal ini sudah menjalar ke berbagai kota seperti : Semarang, Bandung, Medan, Denpasar, Solo, Jogyakarta, Surabaya, Batam, Cirebon, Makassar dan lainnya. Para pehobi jenis yang satu ini pun tidak segan-segan merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah sebelum ikut bermain atau berpacu di arena kejuaraan. Pasalnya, meskipun yang di pakai bukanlah mobil atau kendaraan sungguhan, semua mafhum harganya cukup mahal karena hamper seluruh produknya dari mancanegara. Biaya perawatannya juga bisa dibilang tidak sedikit.

Lantaran masih banyaknya produk impor ini, membuat Asep Tomy T, Manager Engineering and Quality Control Division PT Sanoh--perusahaan komponen otomotif asal Jepang yang khusus memproduksi pipa karet rem, power steering--gerah. Dia melihat banyak sekali peluang yang bisa digarap dibalik permainan hobi itu. Salah satunya, yakni membuat ban mobil RC, komponen plastic, berikut velg serta aksesoris lainnya. “Sejak menerjuni hobi RC sekitar 4 tahun lalu, hampir rata-rata pehobi RC sebulan sekali harus ganti ban. Padahal asal tahu, satu set ban berikut pelek impor seperti Proline. Bow Tie harganya di atas Rp 500 ribu,” tuturnya.
Dari pengalaman kurang nyaman itu membawa Kang Asep--begitu sapaan akrabnya—mencoba membuatnya sendiri. Pengalamannya selama sepuluh tahun bergelut dengan karet, adalah modal yang sangat berharga dalam menekuni bisnis barunya. ‘Awalnya saya coba menganalisa sampai akhirnya saya familiar dengan jenis bahan karet untuk ban RC. Setelah saya mulai membuatnya hingga keluar produk pertama,” tuturnya.

Proses trial ini berlangsung hampir tujuh bulan dengan biaya tak kurang dari Rp 100 juta. Menurut Asep, karet agak sulit tidak seperti plastik dalam proses pencampurannya. Selain uji coba di laboratorium, dia juga langsung uji coba produk tersebut di lapangan. “Saya sampai menghabiskan tiga mesin untuk uji coba tersebut,” kenangnya. Beberapa teman dia, sesama pehobi RC juga disuruh untuk memakai produknya. Dalam setiap kesempatan, dia juga berpromosi kepada sesam pehobi RC mancanegara yang kebetulan sedang bermain di Indonesia. Produk yang belum diberi label itu, ternyata cocok dengan kondisi track RC baik di Eropa, AS, Jepang, Thailand. Mereka memuji produk ban buatannya. Akhirnya, setelah merasa yakin dengan kualitas produk tersebut, Asep memberi brand produk bannya itu Pro Champ yang merupakan akronim dari Profesional Champion.

Menurut Kang Asep, ada peristiwa yang menarik sejak ban yang belum diberi nama itu go internasional, meski masih dalam rangka promosi gratis. Salah satu produsen aksesoris terkenal mancanegara meniru produknya. Dan, celakanya, produk tersebut lebih dulu beredar di pasar domestik. Namun, dia tak khawatir dengan produk tiruan tersebut. Sebab, kualitasnya berbeda. Motif ban atau tekstur memang bisa dijiplak. Namun, hasilnya pasti tidak bakalan sama apabila formula materialnya berbeda. “Yang tahu formulanya kan saya. Terus terang produk Pro Champ tidak bisa mengkilap seperti produk kompetitor, sebab kalau mengkilap tidak ada magnetnya,” imbuhnya. Inilah perbedaan Pro Champ dengan kompetitor.

Sebelum berbisnis sprare part RC, Asep telah menekuni bisnis plastik yakni boks kain sarung yang akan diekspor atau dipasarkan di dalam negeri. Hampir seluruh produsen sarung di Tanah Air, mulai dari Bandung, Pekalongan hingga luar Jawa adalah konsumennya. Hanya, produksi boks tersebut terbatas, mengingat ada jeda yang cukup panjang antara produk yang dijual dengan pesanan. “Kadangkala pesanan datang dalam jumlah besar. Lalu vacuum selama 4 bulan. Baru menjelang Lebaran datang pesanan lagi. Begitu seterusnya,” katanya.
Model ban yang pertama keluar dinamai Astom (Asep Tomy), tidak lain kepanjangan dari namanya sendiri. Seterusnya menyusul model-model yang lain berikut aksesorisnya meliputi velg, spoiler (sayap belakang), clutch( kanvas kopling), seal shock absorber, seal manifold—karet pelindung antara mesin dan knalpot, sehingga totalnya mencapai 20 item produk. Semua produk tersebut bermerek Pro Champ.
Khusus untuk ban, Kang Asep sengaja membuat 3 varian yakni soft, medium, hard dan 2 buah varian medium dan hard untuk velg, tujuannya tidak lain supaya menjangkau semua karakter sirkuit. “Untuk yang ahli saya keluarkan Pro Champ World yang dapat membuat mobil RC lebih agresif. Tetapi jika terlalu agresif, bisa pakai ke DiggerTF. Bila ternyata masih liar pemain bisa pakai Astom. Saya yakin mobil pasti diam. Sedangkan Pro Lime untuk track basah,” paparnya tentang beberapa tipe ban produknya. Pro Champ meluncurkan 10 item produk.
Semula, Asep mengaku pada awalnya merasa belum terlalu yakin terhadap animo pembeli, mengingat pehobi RC disini yang cenderung brand minded. Pada waktu itu pria 37 itu malah belum berani mencantumkan label ‘Made in Indonesia’ pada ciptaannya tersebut. Launching produk pertama pada bulan Maret 2006 lalu dengan membagi-bagikan sample gratis kepada peserta dilakukan di Bandung bukan di Jakarta. Maksudnya agar citranya tidak terlanjur menyebar luas apabila masih terdapat kekurangan.
Ternyata, seperti diceritakan, respons yang diperoleh cukup menggembirakan. Sebelum menentukan besar jumlah produksi Asep mengaku melakukan semacam intelijen marketing, di beberapa kejuaraan RC. Siapa yang memaki produk Pro Champ. Berapa produk Pro Champ yang menang dan sebagainya. Sementara di pemasaran ia juga tidak segan-segan memberikan sample produk gratis kepada banyak relasi diluar negeri dan mengharap kesediaan mereka sebagai agen distributor. Selain sudah menyebar di seluruh hobby shop lokal saat ini agen penjualan Pro Champ sudah terdapat di negara-negara seperti AS, Afrika Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, maupun Philipina. Pro Champ kini telah beredar di 23 negara di dunia. Sekarang, Asep tengah memenuhi permintaan produk ban RC dari sebuah perusahaan di Australia. “Material dari saya, desain dan merek milik mereka. Saat ini tengah proses penandatanganan MOU,” akunya.

Selama kurang lebih setahun, dalam sebulan Asep rata-rata mampu memproduksi 300-400 set (1 set @ 4 pieces) ban. Ban khusus untuk mobil buggy beserta pelek dilempar dengan harga Rp 300 ribu untuk tipe Astom. Harga ini sedikit bervariasi. Namun lebih murah ketimbang ban RC impor yang Rp 400 ribu-an. Untuk jenis Truggy yang baru akan di-launching misalnya, direncanakan harga ritelnya sekitar Rp 400- ribuan.
Saat ini, penjualan yang paling meledak adalah seal atau karet manifold. Begitu keluar di pasaran kini sudah terjual sekitar 15.000 pcs atau 7.500 set dengan harga Rp 25 ribu. Maka dengan total investasi sekitar Rp 200 juta dan rata-rata omset penjualan mencapai Rp 80-90 juta per bulan, Asep mengaku telah balik modal. “Mungkin sudah lebih ya. Sedangkan keuntungannya saya investasikan lagi,” kilahnya.
Kepada mitra bisnisnya, khususnya toko hobi (hobby shop) RC yang menjadi distributor Pro Champ Asep menerapkan sistem jual putus ketimbang konsinyasi. Sedangkan untuk pengiriman ke luar negeri dia mensyaratkan minimal order sebanyak 50 set dengan syarat tambahan tidak boleh pilih-pilih item produk. Artinya, kuantitas berbeda tidak masalah tetapi semua item harus ada.

Sampai saat sekarang Asep masih memanfaatkan jasa orang kedua untuk melakukan produksi atau semacam makloon. Dia optimistis bahwa prospek usahanya akan cerah. Sekarang dia tengah membangun workshop sendiri di dekat rumahnya, di Kawasan Cibarusah, Jabar. Rencananya, selain toko, disitu juga disiapkan arena bermain RC elektrik dan mesin, mulai dari mobil hingga helikopter. Bangunan tersebut tengah dipersiapkan dengan dana lebih dari Rp 1 miliar. Kelak, dengan selesainya tempat tersebut dia ingin menerapkan konsep one stop shopping di bisnis RC. “Yang jelas dengan keluarnya Pro Champ, pehobi bisa menyalurkan kesenangannya dengan harga yang murah,” ujarnya sedikit bangga.
Asep kini senang karena dia bisa menyalurkan hobi RC nya lewat bisnis yang kini tengah mekar. Kini, dia tak perlu lagi merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk hobi yang satu ini. Dan, satu lagi pehobi RC di Tanah Air pun boleh senang, karena sparepart RC bisa didapat dari merek lokal dan sudah pasti dengan harga lokal pula.

MULAI DARI TUTUP BOTOL

Asep memang dilahirkan dari keluarga pebisnis. Dua tahun lalu, kendati masih sebagai professional, dia memulai bisnis pengadaan tutup botol air minum dalam kemasan (AMDK) di Bandung. “Saya melihat peluang yang cukup besar dengan memproduksi tutup botol tersebut,” katanya. Ketrampilannya dan pengetahuannya dalam mencampur plastik, sangat mendukung bisnis ini. Banyak produsen AMDK di Bandung hingga sekarang masih mengorder tutup minuman buatannya.

Tak lama kemudian, setelah sukses di bisnis tutup botol, Asep diversifikasi ke cover sarung—kotak khusus sarung tenun--untuk ekspor. Bungkus sarung yang terbuat dari plastik itu banyak dipesan oleh beberapa produsen sarung dari Pekalongan, Bandung dan sekitarnya. Bahkan, tambah dia, produk cover ini juga dipesan oleh pabrik sarung di Malaysia. Asep mampu memproduksi rata-rata 150 ribu pieces cover plastic per bulannya. Dengan harga rata-rata Rp 13 ribu, omset mencapai lebih dari Rp 200 juta-an/bulan.

Sukses di bisnis ini tak menyurutkan langkah Asep untuk terus berkreasi. Hobi main radio control(RC) ternyata membawa berkah tersendiri. Dia melihat peluang, yakni dengan memproduksi aksesoris RC. Keahliannya di bidang plastik dan pengetahuannya di bidang karet, ternyata mampu menghasilkan produk local yang tidak kalah dengan produk impor. Bahkan, produknya kini beredar
di banyak Negara dan dipakai oleh pehobi RC kelas dunia.

Prospek Cerah Dari Tepung Darah



Selama ini limbah darah di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dibuang percuma. Dengan sentuhan inovasi, Alif mengubahnya menjadi tepung darah yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak. Wiyono

Darah. Perasaan ngeri atau bahkan jijik segera muncul saat membayangkan kata satu ini. Adalah lumrah apabila benda cair berwarna merah itu kemudian dianggap hanya sebagai limbah di setiap rumah pemotongan hewan (RPH). Karena masuk kategori barang buangan seringkali pemanfaatannya tidak maksimal atau terbuang percuma begitu saja. Asal tahu, sejatinya darah buangan itu masih memiliki nilai ekonomi yang lumayan tinggi. Bukan untuk kita konsumsi memang, tetapi setelah diolah menjadi tepung darah dapat dijadikan sumber pakan ternak atau pun pupuk tanaman. Pasalnya selain sebagai sumber protein yang amat bagus untuk penggemukan, kandungan nitrogen alami cukup tinggi sehingga bermanfaat sebagai pupuk organik.

Alif Nuranto adalah salah seorang yang memanfaatkan darah limbah RPH menjadi tepung. Kisahnya awalnya saat berniat membuka usaha pembuatan pakan ikan ia tahu bahwa salah satu bahan bakunya adalah tepung darah. “Saya tertarik untuk mengembangkan produk ini setelah orang tua saya menciptakan mesin yang dapat mengolah produk cair menjadi tepung. Di samping itu pemanfaatan darah dari limbah-limbah RPH saya lihat belum maksimal padahal darah akan bernilai ekonomis yang tinggi jika dibuat tepung,” tuturnya.

Selanjutnya darah cair akan berubah menjadi serbuk atau tepung setelah diproses menggunakan mesin spray dryer. Selain kandungan protein yang tinggi, keuntungan lainnya, butirannya sangat ringan, halus seperti powder sehingga amat mudah dicerna.
Sekadar informasi, Alif menjalankan bisnis orang tuanya Tanda Teknik - mengangkat nama daerah tempat tinggal mereka yaitu TANggulan DAgo -, workshop yang khusus membuat alat-alat dan mesin untuk keperluan laboratorium serta industri. Perusahaan ini dibangun pada tahun 1997. Pada awalnya workshop ini untuk melayani pembuatan alat/ mesin untuk skala laboratorium dan penelitian di ITB, kemudian dalam perkembangannya banyak menerima pesanan dari beberapa perguruan tinggi yang memiliki fakultas teknik di seluruh Indonesia.

Sedangkan kapasitas produksi tepung darah yang dihasilkan Alif selama sebulan sesuai kapasitas
mesin adalah sekitar 500 Kg. Harga produk di pasaran Rp 30.000/kg. Dikatakan, target pasar produk tersebut adalah para pelaku bisnis di sektor agro industri terutama di bidang peternakan dan pertanian. Saat ini konsumen yang membeli produk dari bapak satu anak ini berasal dari Bandung, Tangerang, Bogor, dan Subang. “Pernah ada permintaan dari Jepang tetapi karena keterbatasan kemampuan modal kami tidak dapat memenuhi,” akunya.

Soal bahan baku, dikatakan, ia tidak menemui kendala dan jumlahnya cukup melimpah. Namun untuk saat ini karena alasan keterbatasan modal usaha sehingga produksi hanya dikerjakan berdasarkan pesanan. Padahal ia amat yakin bisnis ini menurutnya merupakan bisnis masa depan yang mempunyai prospek yang cerah. “Produk yang memiliki berbagai manfaat seperti kualitas yang baik, efisiensi dan nilai yang tinggi tentunya akan sangat dibutuhkan di masa yang akan datang apalagi sektor agribisnis merupakan basic perekonomian negara kita,” tukasnya.

Diungkapkan lulusan Teknik Planologi ITB itu, untuk sementara waktu pembuatan pakan ikan dengan bahan baku utama menggunakan tepung darah itu masih dilakukan sendirian saja. Tetapi jika nanti seiring permintaan tepung darah terus meningkat maka ia siap bekerja sama dengan investor.
Sayangnya, Alif enggan menyebutkan dengan pasti besarnya investasi untuk usaha ini termasuk besarnya modal awal pada saat riset pembuatan mesin spray dryer sehingga dapat berjalan dengan baik. Yang jelas saat ini dia memiliki karyawan berjumlah 10 orang, terdiri 3 orang tenaga ahli, 4 orang operator , 2 orang administrasi dan 1 orang pembantu umum. Ia juga telah dimintai memasok produk pellet yang menggunakan tepung ikan kepada para petani tambak di bendungan Jatiluhur dan Subang.


Tempe Pun Sampai ke Mancanegara



Dengan memodifikasi bahan baku dan eksperimen produk Zaeni berhasil mengembangkan tempe nya ke Australia dan Jepang. Kiatnya? Russanti Lubis

Orang bule makan tempe? Ya, makanan yang menurut sejarah berasal dari Jawa, khususnya Surakarta dan Yogyakarta, ini kini tidak hanya dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat mancanegara. Karena, lauk pauk yang kaya akan protein nabati dan serat seperti : kalsium, vitamin B serta zat besi ini dapat dijadikan sebagai pengganti daging, sehingga sangat digemari dan dicari oleh—terutama--kaum vegetarian di seluruh dunia.
Mengetahui hal ini, sebuah perusahaan ekspor impor makanan menggandeng Zaeni, pengusaha tempe di kawasan Buaran, Jakarta Timur, untuk mengekspor tempe ke Australia dan Jepang, pada 1997 lalu. Pengapalan makanan yang terbuat dari kacang kedelai yang difermentasikan ini, dilakukan dua kali dalam setahun, masing-masing sebanyak 5 ton kedelai atau kira-kira setara dengan 15 ribu bungkus tempe.

“Awalnya, sebuah perusahaan ekspor impor makanan ingin mengeskpor tempe. Lalu, perusahaan tersebut mencari ‘perusahaan’ tempe yang bukan cuma produknya yang memenuhi standarisasi sebuah usaha, melainkan juga tempat usahanya. Kebetulan, seorang kenalan dari Departemen Perindustrian menawarkan kerja sama tersebut ke saya. Peluang itu saya, ambil,” kata Zaeni, pengusaha tempe ekspor.
Sebelum tempe diekspor, Zaeni harus melakukan riset secara bertahap untuk memastikan bahwa produk tersebut aman dikonsumsi oleh masyarakat mancanegara. Selama setahun, dia harus melakukan berbagai eksperimen. Sesudah itu, baru dikirimkan ke Australia dan Jepang. Mula-mula 5 kg/bulan untuk masing-masing negara, kemudian 10 kg/bulan, dan akhirnya 5 ton/negara setiap setengah tahun. “Proses itu berlanjut sampai sekarang,” ujar Zaeni, mengisahkan ekspor tempenya.

Apa sih hebatnya tempe Zaeni sehingga mampu diekspor? “Saya menggunakan kedelai yang lebih berkualitas dan melalui proses seleksi yang ketat. Hanya kedelai yang berwarna putih bersih yang saya gunakan. Karena itu, tempe saya mampu bertahan selama setahun, sedangkan yang untuk pasar lokal hanya bertahan 2 sampai 3 hari. Selain itu, tentu saja harganya lebih mahal, dua kali lipat daripada yang untuk konsumsi setempat,” ujarnya. Sekadar informasi, untuk tempe mendoan, Zaeni menjualnya dengan harga Rp500/bungkus, untuk yang dibacem atau digoreng biasa Rp150/bungkus, dan yang dikemas dalam plastik dengan berbagai ukuran Rp2.500,- hingga Rp4.000,- per kemasan.

Selain membuat tempe, Zaeni yang membangun usahanya sejak 1978 juga membuat susu kedele sebagai alternatif susu untuk bayi. Namun, karena mahalnya biaya produksi, susu tempe ini masih disimpan di laboratorium dan belum diproduksi serta dipasarkan. Di samping itu, saat ini ia juga sedang menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan untuk memproduksi dan mengembangkan kerupuk tempe, yang nantinya dipasarkan ke luar negeri. “Sebenarnya, apa yang saya lakukan itu hanyalah bagian dari percobaan-percobaan untuk membuktikan bahwa tempe bukan cuma dikonsumsi dengan cara yang begitu-begitu thok, melainkan juga dapat dikembangkan sama halnya dengan terigu, sehingga orang tidak jenuh makan tempe,” jelasnya.
Zaeni optimistis pasar tempe masih terbuka luas. Apalagi kalau mau terus menekuni dan belajar. Ide-ide baru dicoba, inovatif, “saya yakin pasar untuk tempe selalu ada.” Karena, sama halnya dengan bisnis-bisnis pada umumnya, dalam bisnis tempe, tidak cukup sekadar mengetahui bagaimana caranya membuat tempe, melainkan juga segala tetek bengek usaha ‘pertempean’ seperti bagaimana caranya membuat konsumen tidak membeli tempe sekali saja dan dalam jumlah sedikit, tetapi berkali-kali dan dalam jumlah banyak. Bukan cuma sudah merasa mampu membangun bisnis tempe, melainkan juga siap mental dan modal. Bukan hanya fokus pada produksi, melainkan juga menguasai pasar. “Semua ini bagian dari pemasaran juga loh,” katanya.

Selain itu, tambah dia, di satu sisi, usaha tempe juga sangat menolong mereka yang putus sekolah dan tidak berpeluang menjadi karyawan. Sebab, tempe merupakan bisnis dengan modal kecil dan bahan baku gampang. Di sisi lain, merajalelanya penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh daging, flu burung misalnya, bisa mendongkrak penjualan tempe hingga 10%. “Jika dalam satu pasar terdapat kira-kira 40 pengusaha tempe dan masing-masing memproduksi 100 kg kedelai/hari, total dalam sehari diproduksi 4 ton kedelai. Dengan adanya kenaikan penjualan 10%, berarti terjadi kenaikan produksi 400 kg kedelai/hari. Sebuah bisnis yang murah meriah, bukan?” imbuhnya.

Zaeni sendiri membangun bisnis ini dengan modal Rp1 juta dan omset harian 200 kg kedelai atau setara dengan Rp 800 ribu/hari. Setiap hari, dia dan lima karyawannya memproduksi 200 kg sampai 300 kg kedelai atau sama dengan 600 bungkus tempe dengan berbagai ukuran dan kemasan. “Kami berproduksi setiap hari, tidak ada istilah libur di sini. Karena, orang juga tidak pernah libur makan tempe, bukan?” timpalnya. Selanjutnya, tempe-tempe itu dibawa ke pasar. Di samping menjual eceran untuk konsumen, tempe itu juga dijual secara grosiran atau memasok ke para tukang sayur, yang dianggap sebagai agen. Kepada para agen, saya menjual lebih murah sekitar 40%,” ujar Zaeni yang mengembangkan usaha tempenya di home industry sekaligus rumah tinggalnya seluas 225 m².

Kedepannya, Zaeni berencana mengembangkan pasar tempenya lebih luas lagi. Selain pasar domestik, dia masih mencari peluang pasar mancanegara lainnya, di luar Jepang dan Australia. Ibarat plesetan motto sebuah media, tempe (memang) enak dimakan dan perlu, menjanjikan omset menggiurkan pula.


Menggebrak Pasar Lewat Produk Minuman Speciality
Yuki,Vizone dab Extra Tozz, adalah produk minuman baru yang diluncurkan oleh PT Adrian Trans Retailindo. Penjualan bagus, di sektor ritel dan lewat jaringan rumah sakit.
Sepintas, bangunan yang terletak di Kawasan Taman Tekno, BSD City itu hanya berupa ruko, lazimnya gedung-gedung yang berdiri megah di kompleks tersebut. Namun, bila Anda masuk ke dalam, disitu Anda akan menjumpai sebuah proses produksi beberapa produk minuman kesehatan mulai dari pengisian hingga pengemasan. Jumlah karyawannya tidak banyak. Hanya 20 orang. Tapi, siapa sangka dengan jumlah SDM yang terbatas ini, produk minuman yang dihasilkan telah merambah ke berbagai daerah di Tanah Air, mulai dari Sumatera hingga Papua. Tempat itu adalah milik PT Adrian Trans Retailindo (ATR), produsen minuman merek Vizone, Yaki dan Ektra Tozz.
ATR lahir hasil dari pengamatan pasar yang masih menjanjikan, terutama bagi bisnis minuman kesehatan. Selain populasi penduduk yang besar atau pasar yang potensial, bidang consumer goods masih memberikan keuntungan yang lebih besar ketimbang hanya menjadi distributor atau toko ritel. Demikian aku Sulanto Tarino, Direktur ATR, pendiri sekaligus pembuat ketiga minuman tersebut. “Semula kami hanya distributor produk minuman tertentu. Namun, marjin yang kami peroleh sangat tipis. Lalu kami banting stir dengan membuat brand sendiri,” ujarnya.
Membuat minuman kesehatan bukanlah hal sulit. Apalagi bagi Sulanto. Pengalaman 12 tahun dibidang distributor bahan baku minuman kesehatan dan susu, telah menjadikannya piawai dalam hal mengolah minuman dan makanan ini. Pengalamannya makin bertambah lantaran pihak prinsipal sering mengundangnya untuk pelatihan, baik di pabrik di Perancis, Australia maupun Kanada. “Ilmu yang saya peroleh ini coba saya aplikasikan dengan membuat brand minuman sendiri,” katanya.

Pada Februari 2007 lalu, dengan modal Rp 250 juta hasil patungan dengan rekannya, Sulanto mendirikan pabrik minuman sendiri. Selain memproduksi dan memasarkannya sendiri, dia juga merekrut ahli-ahli riset dan pengembangan (R&D/research and development) untuk membuat beberapa jenis minuman. Vizone, Yaki dan Ektra Tozz adalah hasilnya
Dan, pasar pun tampaknya merespons kehadiran ketiga merek minuman tersebut. Sejak diluncurkan pertama kali Februari lalu penjualan cukup bagus. Meski tidak melonjak secara drastic, penjualan tumbuh cukup signifikan. Permintaan di beberapa daerah maupun distributor cukup lumayan. Disamping itu, ATR juga menjalin kerjasama dengan beberapa rumah sakit untuk jaringan pemasarannya. Total produksi sekarang mencapai 280 ribu karton/bulannya. “Saya yakin dalam bulan-bulan mendatang jumlah itu akan bertambah, seiring dengan makin meratanya jaringan pemasaran kami,” tutur Sulanto.

Optimisme ini juga didukung karena, produk-produk minuman ATR memilik kekhasan tersendiri dibanding dengan minuman kesehatan sejenis. Baik Yaki, Vizone atau Ektra Tozz, adalah minuman tidak hanya termasuk minuman kesehatan saja, tapi mengarah ke minuman speciality. Untuk produk Yaki, misalnya, tambah Sulanto, mungkin baru satu-satunya minuman kesehatan yang didalamnya terdapat gel (agar-agar). Jika dilihat dari kemasannya, minuman itu terlihat biasa saja. Tak terlihat endapan ataupun bahan lain di dalamnya. Tapi, jika diminum seolah-olah ada agar-agar didalamnya. “Untuk itulah maka kami memakai tagline feel the unscreen,” tambahnya. Minuman yang termasuk dalam kategori fiber ini dikemas dengan teknologi tertentu yang bagus untuk pencernaan. Fungsinya, membantu penyerapan lemak yang akan dibuang ke tinja. “Minum Yaki Anda akan terasa kenyang.” Beberapa rumah sakit, kabarnya telah menggunakan produk minuman ini untuk pasien tertentu.
Di samping itu, dari segi kemersial, baik Yaki, Vizone maupun Ektra Tozz, memiliki kemasan yang berbeda. Differensiasi yang dicanangkan manajemen ATR tidak hanya pada urusan rasa atau sebagai minuman kesehatan saja, namun dalam botol dan harga. Ketiga minuman itu memang diposisikan pada segmen menengah bawah dengan harga mulai seribu hingga tiga ribu rupiah. ”Bandingkan dengan produk sejenis, pasti harga kami lebih murah. Meski murah, tapi kami tidak mengurangi kualitas produk minuman itu,” ujar Sulanto lagi.

Sulanto mengakui, sampai saat ini ketiga produk minuman itu belum masuk di toko swalayan atau dept store terkenal. Baginya, itu hanya masalah waktu. Karena, disamping produk baru, pihaknya lebih berkonsentrasi membangun jaringan terutama di sektor ritel bawah, mengingat segmen yang dibidik adalah menengah bawah. Tapi dia optimistis dalam waktu dekat baik Vizone, Ektra Tozz maupun Yaki, akan beredar di toko-toko swalayan terkenal.





Selai Rosella, Sehat dan Kaya Khasiat
Anda suka menambahkan selai pada roti yang hendak hendak dihidangkan pada saat sarapan? Tak ada salahnyauntuk mencoba selai rosella. Rasanya hampir sama dengan selai strawberry, tapi selai ini juga memiliki khasiat mencegah berbagai macam penyakit. Anita Surachman
Banyak sekali tanaman khas negeri kita yang enak disantap sekaligus mujarab untuk dijadikan obat. Salah satunya rosella (Hisbiscus sabdariffa), yang sudah dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia. Belakangan tanaman unik ini terus melejit pamornya. Tak lain karena rosella banyak diburu untuk dikonsumsi karena kaya khasiat. Sejumlah peneliti mengungkapkan rosella merupakan jenis tanaman herbal yang bisa digunakan sebagai obat maupun minuman kesehatan. Bahkan tak sedikit yang memanfaatkannya sebagai penambah aroma makanan.
Rosella, memiliki banyak sekali kegunaan untuk mencegah berbagai penyakit. Diantaranya, menjaga dan meningkatkan stamina, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kekentalan darah (viskositas), menurunkan asam urat, menurunkan kadar gula, menurunkan kolesterol dan memperbaiki metabolisme. Tanaman ini juga memiliki sifat sebagai penetral racun, baik juga untuk mencerdaskan otak, melangsingkan tubuh, mencegah kanker, maag menahun, mengatasi gangguan pencernaan, serta memperlancar buang air besar.
Anda mungkin akan terkagum-kagum dengan khasiat tanaman ini. Selain sederet khasiat yang dimiliki rosella juga berguna membantu memulihkan dari ketergantungan obat, mengatasi gangguan kencing dan ginjal serta penyakit yang berhubungan dengan empedu, menyembuhkan batuk, dan masih banyak lagi.
Menyadari begitu tingginya khasiat yang terkandung pada tanaman tersebut, masyarakat kini mulai banyak yang mengembangkan tanaman rosella menjadi tambahan bahan makanan. Salah satunya adalah membuat selai dari rosella. Ide untuk menekuni bisnis semacam ini muncul dari Solikin, pria kelahiran Tulungagung 42 tahun silam. Ia merintis usahanya sejak tahun 2007, dengan dibantu oleh 2 orang karyawannya. Modal awal yang ia gelontorkan tidaklah besar. Hanya sekitar 40 juta yang ia gunakan untuk sewa lahan sebesar Rp35 juta dan sisanya dijadikan modal usaha.
Dari sebungkus teh merah rosella yang ia peroleh dari seorang rekannya, Solikin mendapat inspirasi untuk membangun sebuah bisnis. Kendati awalnya hanya dimanfaatkan sebagai minuman herbal, tapi ketika ia mengetahui khasiatnya yang begitu besar, Solikin berinisiatif untuk menanam tumbuhan tersebut. Sebagai uji coba ia memanfaatkan halaman rumah sebagai media untuk bercocoak tanam. Tak disangka usahanya berhasil, pendapatan pun mulai mengalir ke koceknya.
Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 93/April 2009.

Miniatur Moge, Bahan Murah Hasilnya Mewah


Ditangan orang-orang kreatif, barang yang tadinya tak berguna sekalipun bisa diubah menjadi tinggi nilai kegunaanya. Sendok dan garpu bekas misalnya, dalam sentuhan Aji Ali Syabana dapat bermetamorfosis menjadi miniatur Harley Davidson. Anita Surachman
Saat bersantap di meja makan, sendok dan garpu merupakan peralatan yang biasa akan Anda temui. Ya, bagi yang tak terbiasa bersantap dengan tangan, sendok dan garpu punya peran penting. Tapi pernahkan Anda terpikir peralatan tadi bisa menginspirasi munculnya sebuah kreatifitas yang unik? Lewat tangan-tangan terampil dari satu komunitas yang bernama Jabar Enterpreneur Community (JEC) –yang terletak di Jalan Karawitan No. 9, Bandung-- tercipta produk seni unik “hand made” berupa prototipe Harley Davidson (HD) dengan bahan baku sendok dan garpu.
Menurut pendiri JEC, Aji Ali Syabana, produk yang dihasilkan sebenarnya bukan hanya berupa prototipe HD saja melainkan hampir semua jenis prototype kendaraan dengan tingkat kesulitan masing-masing. Spesifikasi untuk satu prototipe HD biasanya menghabiskan enam setengah lusin sendok dan garpu. Rinciannya, untuk rangka memerlukan 10 sendok/2garpu, rangka velg 2 sendok/8garpu, cakram 4 sendok, knalpot 2 sendok, teng 4 sendok, stang 2 garpu, dop mesin 4 sendok/2garpu, lampu 2 sendok, sepakbor 4 sendok, dan aksesoris lainnya. Untuk membentuk miniatur motor gede ini digunakan peralatan tak ubahnya pertukangan misalnya, tang, gunting, gegep, paku, mur atau pemotong plat stainless dan lainnya.
Meski hanya sendok dan garpu bekas tapi bukan sembarang jenis yang digunakan. Tipe yang dipakai adalah sendok dan garpu Cina yang sebagian permukaannya bertekstur serta sendok tipe 509 polos. Jenis ini mempunyai tekstur yang lembut dan lebih efektif untuk dikreasikan. Bahan stainless sendok membuatnya tidak mudah karatan, serta perawatannya pun sederhana. Cukup dengan menggunakan kain dan pembersih stainless serta menambahkan semir sepatu untuk rodanya.
Rupanya Aji mempunyai alasan khusus memilih sendok dan garpu sebgai media kreatifitasnya. Selain unik, hingga saat ini belum ada produk kerajinan yang dibuat dari bahan itu. Melalui JEC ini Aji mencoba menyampaikan ‘pesan’ mengenai isu ramah lingkungan. Dari limbah-limbah sendok dan garpu yang tak terpakai, Aji, mencoba menyulapnya menjadi produk seni bernilai tinggi. “Bisa dibayangkan bila limbah sendok garpu rumah tangga yang dihasilkan tiap tahun dibuang percuma mungkin suatu saat menjadi bukit sendok garpu yang mengerikan sama halnya seperti sampah organik,” kata Aji.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 92/Maret 2009.

Kaos Kaki Soka, Menembus Pasar Global
Kreatifitas selalu menciptakan peluang. Aman Suparman membuktikannya dengan melakukan inovasi pada produk kaos kaki yang dihasilkannya. Permintaannya melonjak bahkan mampu menembus pasar ke manca negara. Wiyono
Jika disodorkan pertanyaan mengenai kata kaos kaki, orang akan langsung terpikir itu merupakan pelengkap bersepatu. Padahal siapa orangnya yang tidak memiliki sepatu? Maka ketika logika tersebut kemudian dibalik, kesimpulannya orang yang bersepatu pasti butuh kaos kaki. Boleh jadi satu orang (pria) cukup memiliki 2 atau 3 pasang sepatu. Tapi, tiap pasang sepatu biasanya butuh lebih dari sepasang kaos kaki. Tujuannya agar kita bisa sering gonta-ganti kaos kaki. Jika tidak, jangan tersinggung jika tetangga sebelah akan terus-terusan memencet hidung. Alasan lain dikarenakan masa pakai kaos kaki yang biasanya berumur lebih pendek alias cepat bolong jika dibandingkan dengan masa pakai sepatu.
“Saya tertarik menggeluti usaha kaos kaki karena punya pangsa pasar yang sangat besar. Apalagi saya punya kebiasaan memakai kaos kaki dengan model terbaru. Saya berpikir, pasti orang lain juga banyak yang punya kebiasaan seperti saya. Sehingga kebutuhan kaos kaki akan tetap tinggi,” ujar Aman Suparman, Direktur Utama PT Mitra Niaga Internasional (MNI). Perusahaan yang berpusat di Bandung ini merupakan spesialis produsen kaos kaki dengan mengusung merek Soka.
Dalam dunia bisnis, kota Bandung sudah sejak lama dikenal banyak melahirkan ide-ide kreatifdan potensial. Hebatnya, tidak sedikit industri kreatif disana dimotori oleh anak-anak muda. Termasuk kaos kaki Soka. Usaha yang sudah berjalan sekitar 5 tahunan --didirikan tanggal 24 Mei 2004-- tersebut juga dimotori sekelompok anak muda berusia sekitar 22 tahun. Nama Soka, menurut Aman, dipilih juga karena berarti ‘muda’ sesuai tagline Fresh Generation.
Dengan kata lain Soka merupakan merk dagang PT MNI di mana Aman Suparman bertindak sebagai direktur utamanya sekaligus pemegang saham terbesar. Selain memproduksi Soka Kaos Kaki Original, yaitu kaos kaki standar untuk wanita dan laki–laki, terdapat pula Soka Kaos Kaki Jempol serta Soka Kaos Kaki Wudhu. “Keunikan dan kelebihan kaos kaki Soka yaitu produk kami selalu inovatif dan memenuhi selera atau keinginan konsumen. Desain produk inovatif itu didapat dari masukan atau keluhan konsumen yang menginginkan produk yang sesuai selera konsumen dan hasil riset tim R&D internal perusahaan,” ujar Aman.
Kaos Kaki Jempol misalnya, produk tersebut sejatinya lebih sesuai ditujukan untuk konsumen wanita, terutama perempuan muslim. Bagi muslimah yang kesehariannya mengenakan jilbab maka kaos kaki telah menjadi pelengkap. Tambahan jempol pada kaos kaki membuat lebih nyaman dipakai ketika sedang memakai sandal tali ketimbang model biasa. Demikian pula dengan kaos kaki wudhu, yaitu pembungkus kaki yang desainnya memungkinkan pemakai dapat membasuh kaki saat mengambil air wudu tanpa harus dilepas.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 93/April 2009.

Paket Usaha Digital Yang Layak Dijajal
Dengan sentuhan teknologi terkini, mug digital yang banyak beredar dipasaran kini dipoles menjadi colour changing mug atau biasa disebut mug bunglon. Karena bentuknya yang unik pangsa pasarnya pun kain menarik. Wiyono
Anda tentu kenal dengan mug digital, sebuah produk cetak digital dengan menggunakan mug (sejenis cawan tempat minum) sebagai medianya. Desain gambarnya bisa dipesan sesuai keinginan sehingga produk ini biasa digunakan sebagai media promosi atau sekadar untuk merchandise pribadi. Karena banyak yang memproduksi, maka tak heran jika produk ini akan dianggap 'biasa' saja.
Tapi bisa jadi Anda akan dibuat terkesima setelah melihat produk colour changing mug atau sering disebut mug bunglon --sebab bisa berubah warna. Cara kerjanya, mug yang semula warnanya tampak polos, ketika diisi air panas tiba-tiba memunculkan sebuah gambar. Ini hanya salah satu produk unggulan Otak Encer Digital Paddock (OEDP).
OEDP yang bergerak di bidang usaha cetak digital terbilang masih baru. Launching pertamanya belum genap setahun, yaitu pada saat mengikuti Pameran "Jogja Fair" pada tanggal 15 sampai 23 November 2008. Namun menurut pemiliknya, Ardit Wikusumahadi Alrahman, respon pasar cukup baik dan antusias karena desain produknya menarik dan berbeda. Unik dan masih jarang dijumpai di pasaran atau bahkan belum terdapat dipasaran, khususnya di Yogyakarta.
Ketika itu ia menyiapkan 7 macam produk, mulai dari foto tiga dimensi, mug digital, liontin, laminasi foto, produk merchandise berupa gantungan kunci, paket usaha peralatan serta bahan baku. Meski baru, selama 9 hari pameran Ardit memperoleh omset sekitar Rp10 juta. Sebanyak 150 pcs mug bunglon seharga @ Rp45 ribu yang disediakan ludes terjual bahkan masih kurang.
Pria kelahiran Solo, 20 November 1983 yang kini bekerja di sebuah kantor akuntan publik di Jakarta itu mengaku ide awal usaha didapat melalui internet. Rahasia produk-produk unik dan langka tersebut karena sebagian besar bahan bakunya harus diimpor. Demikian pula dengan software pengolah gambar yang dipakai, ia pun khusus memesan program dari luar negeri.
Terkait brand perusahaannya yang terdengar unik, Ardit menjelaskan otak encer mempunyai makna mendesain sesuatu perlu memakai otak serta menuangkan hasilnya dengan sesuatu yang encer. Selain bermakna, nama ini dipilih karena mudah di ingat, simple, easy listening, dan berkesan kreatif. Sedangkan Digital Paddock menggambarkan bidang usaha digital. Kata 'Paddock' sendiri merupakan simbol suatu tempat mangkalnya teknologi terkini dengan SDM yang kompeten dan sangat kompetitif untuk menghasilkan produk yang optimal.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 93/April 2009.

Laris Karena Tuah Pitik Rambut Syetan dan Sambel Iblis

Setelah sukses mengembangkan rumah makan steak Ben Tuman, Ajeng Astri Denaya berhasil mengelola rumah makan Mbah Jingkrak. Keduanya kini dikembangkan dengan model waralaba. Haris RK

Jalan-jalan ke kota Semarang, kurang lengkap rasanya bila tidak menikmati pitik rambut syetan atau sambel iblis. Jangan kaget dulu, belakangan menu yang terkesan menyeramkan itu memang sedang popular di ibu kota propinsi Jawa Tengah ini. Untuk mendapatkannya tidak perlu laku ritual, tapi cukup datang ke Rumah Makan Mbah Jingkrak.
Rumah makan yang berada di kawasan Jl. Taman Beringin tersebut, memang sedang naik daun. Itu karena kepintaran pengelolanya dalam menyajikan menu-menu yang membuat penasaran para pemburu makanan enak.“Selain penasaran dengan nama menu, mereka cocok dengan makanan yang kami sajikan, “ kata Ajeng Astri Denaya, pemilik restoran tersebut.

Dalam jagad bisnis resto, nama Mbah Jingkrak bisa dibilang pendatang baru. Ia baru muncul setahun belakangan ini. Hebatnya dalam tempo yang terbilang singkat itu, ia telah memiliki pelanggan fanatik. Menariknya, mereka justru berasal dari kalangan menengah ke atas, yang sebenarnya tidak dibidik secara khusus pada awal pendirian rumah makan ini. “Semula kami membidik pasar semua lapisan, tapi ternyata yang muncul justru kalangan menengah ke atas, padahal harga menu kami sangat terjangkau kalangan mana pun,” tutur ibu tiga anak ini.
Kemunculan rumah makan ini, memang terbilang fenomenal. Ia melesat cepat bak meteor. Maklum dalam waktu yang relatif singkat, telah berhasil menarik hati masyarakat. Tak mengherankan, bila dalam tempo tidak sampai sebulan pengelola rumah makan ini mengklaim telah berhasil mengembalikan modal yang ditanamkannya. “Kami sangat bersyukur karena tidak genap sebulan, modal yang kami tanam langsung balik,” imbuh Ajeng.

Menurut pengakuan Ajeng, Mbah Jingkrak baru resmi beroperasi sejak akhir 2005 lalu. Pendirian rumah makan ini, merupakan pengembangan bisnis resto yang telah dijalaninya sejak tahun 1997 silam. Wanita penghobi masak ini, sebelumnya memang telah berhasil mengembangkan bisnis jasa boga. Ia tercatat sebagai pemilik Warung Steak Ben Tuman, yang berada di Semarang dan kini telah berkembang di Jakarta.. “Setelah warung steak berkembang, saya kok pengin mengembangkan rumah makan dengan menu makanan tradisional,” ungkapnya.
Ajeng berterus terang bahwa pendirian rumah makan Mbah Jingkrak terinspirasi dari beberapa warung makan tradisional yang ada di Yogyakarta dan Solo. Dia melihat ada beberapa warung di kedua kota tersebut yang cukup laris walaupun tempat dan cara penyajiannya sangat sederhana. Mereka laris bukan karena tempat tapi karena menu yang disajikan dirasakan cocok bagi kebanyakan orang, termasuk dari kalangan menengah.
Namun ada sebagian besar kaum berduit yang merasa malu makan di tempat seperti ini, walaupun mereka sebenarnya merasa cocok dengan menu yang disajikan.”Mereka sebenarnya mau, tapi juga malu apalagi yang biasa jaga image atau sok gengsi,” tandas Ajeng.

Melihat fenomena banyaknya warung makan tradiosional yang cukup laris, Ajeng merasa ada peluang pasar yang bisa diraihnya. Ia tertarik membuat rumah makan dengan menyajikan menu tradisional, tapi disajikan di tempat yang representative sehingga bagi kalangan menengah ke atas tidak sungkan untuk datang menikmatinya.
Bila melihat menu yang disajikan di rumah makan Mbah Jingkrak, memang terasa tidak asing lagi. Karena semua bisa ditemukan di warung-warung makan lain. Hanya saja yang membuat berbeda, Ajeng menamakan beberapa menunya dengan nama yang nyleneh seperti pitik rambut syetan, sambel syetan, sambel iblis, es tobat, dll. Sambel iblis, sebenarnya hanya sambel biasa tapi dibuat dari cabe rawit, yang terasa pedas sekali. Siapa pun yang menikmati tentu akan merasa kepedasan. Penamaan menu-menu aneh tersebut, memang menjadi strategi promosi untuk membuat konsumen penasaran. Dan strateginya memang membuahkan hasil , karena setiap muncul menu baru selalu ada yang merasa penasaran dan ngin mencobanya. “Biasanya setelah mencoba mereka akan ketagihan, nah membuat orang ketagihan ini yang sulit,” paparnya.
Pernyataan Ajeng, memang tidak berlebihan. Nyatanya, dengan nama-nama menu yang terkesan “sangar” tersebut, ternyata telah mengangkat citra Rm Mbah Jingkrak, hingga cepat dikenal masyarakat. “Kami memang sengaja membuat menu aneh yang bikin penasaran konsumen,” katanya lagi.
Nama Mbah Jingkrak itu, sendiri menurut Ajeng diperoleh secara tidak sengaja. Itu terjadi ketika dia bersama sang suami, Henry Pramono hendak pergi ke sebuah desa di Kecamatan Munggi, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Di desa itu ada sebuah warung makan yang sangat terkenal karena menyajikan menu nasi beras merah dan sayur lombok tempe. Dalam perjalanan tersebut, Ajeng tidak ingat nama rumah makan yang akan ditujunya. Tiba-tiba sang suami nyebut nama “Mbah Jingkrak”, padahal yang dimaksud adalah desa Jirak. “Saya mendadak punya inspirasi untuk menamakan Mbah Jingkrak menjadi nama rumah makan, ini kayaknya pas sekali,” tutur Ajeng.
Sejak itulah, ia merasa mantap menggunakan nama Mbah Jingkrak di rumah makan yang kemudian dibukanya di Semarang hanya beberapa hari sepulang dia menyempatkan makan di Gunungkidul. Nama ini sangat cocok karena dalam bahasa Jawa, jingkrak berarti melompat-lompat karena kegirangan.
Masih menurut Ajeng, untuk mendirikan rumah makan tersebut, ia hanya mengggunakan modal Rp 40 juta. Modal ini digunakan untuk penyiapan alat dan promosi. Tanpa dinyana modal sebanyak itu ternyata langsung balik dalam tempo tidak sampai satu bulan. “Padahal perhitungan saya, modal paling tidak baru bisa balik selama tiga bulan,” ujarnya.
Tidak mengejutkan bila, dalam tempo singkat Ajeng berhasil mengembangkan Mbah Jingkrak. Maklum ia memang sudah paham betul strategi apa yang harus dilakukannya, salah satunya adalah strategi promosi. Ketika pertama buka, ia langsung memblow up promosi lewat media lokal dan menghubungi semua relasi bisnis yang telah dimilikinya.

Bagi Ajeng, menjalankan bisnis rumah makan agaknya sudah menjadi jalan hidupnya. Ia kini bisa dibilang meraih kesuksesan hidupnya karena bisnis jasa boga yang digelutinya. Saat ini Ajeng tercatat mengelola dua rumah makan, Ben Tuman dan Mbah Jingkrak. Keduanya berlokasi di tempat yang sama.
Sekedar informasi, sebelum sukses menggeluti bisnis resto, Ajeng tercatat sebagai karyawan sebuah perusahaan garmen di Semarang. Tekad untuk pindah kuadran menjadi pengusaha memang sudah bulat. Itu karena kondisi ekonomi yang mendorong semangat berbisnisnya bangkit. “Bayangkan mas saya harus menanggung tiga anak, sementara saya single parent,” tutur wanita bertubuh kuning langsat ini.
Restoran Ben Tuman yang secara khusus menyediakan menu steak dirintisnya sejak 1997 silam. Modal awalnya hanya Rp 14 juta yang digunakan untuk sewa tempat dan persiapan peralatan produksi. Ia mengaku tertarik membuka warung steak setelah melihat bisnis makanan asal Eropa ini cukup digemari dan menjadi trend bisnis di kota Jakarta dan Bandung. “Saya memang suka masak dan mencoba makanan apa saja ,” jelasnya.

Ben Tuman bisa dibilang pelopor bisnis steak di Semarang. Ketika itu, Ajeng juga sudah menggunakan nama menu yang aneh seperti, Sapi bingung dan ayam linglung. “Ternyata menu yang aneh bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk membuat orang penasaran,” katanya.
Ia mengawali usaha di kawasan Jl Kiai Saleh dengan mengontrak tanah seluas 100 meter persegi. Modal awalnya hanya Rp 14 juta yang merupakan uang tabungan. Bisnis berkembang bagus, sehingga tak mengherankan bila dalam tempo singkat, modalnya segera kembali dan ia membuka cabang lagi di tempat lain. Bahkan dalam perjalanannya, ia berhasil mengembangkan modal sebanyak itu menjadi asset ratusan juta dalam tempo tiga tahun. Ini terbukti dengan keberhasilannya membeli tanah sendiri yang digunakannya membuka cabang baru senilai Rp 750- juta.

Awalnya, Ajeng mencoba membidik pasar mahasiswa. Tentu saja, steak yang dijualnya telah melewati proses modifikasi baik dari rasa maupun harga. Ia meramu bumbu sendiri dan membuat harga yang terjangkau untuk kalangan mahasiswa. “Ternyata banyak lidah orang Semarang yang juga gemar dengan steak,” katanya.
Dalam perjalanannya, ternyata yang datang ke Ben Tuman justru berasal dari kalangan menengah ke atas. Padahal semula, ia tidak membidik pasar ini secara khusus. Yang diinginkannya justru pasar dari kalangan menengah ke bawah. “Tapi yang datang ternyata mereka yang bermobil dan kini justru malah anak-anak orang kaya,” tukasnya.
Menurut Ajeng bisnis makanan di Semarang terbilang tidak gampang. Sekali salah melangkah, katanya, bisnis bisa hancur. Karena itulah, sebelum memulai bisnis ini, pengetahuan tentang karakter masyarakat mutlak dikuasai.” Kebetulan saya orang Semarang, jadi sudah paham dengan keinginan mereka,” katanya.

Sejak awal, Ajeng memang berusaha menjual steak tersebut dengan harga yang bisa dijangkau masyarakat dan terbilang murah. Ia menyediakan menu antara Rp 12.750 hingga Rp 30.000-an. “Harga ini murah dibandingkan dengan harga di restoran besar,” ungkapnya.
Untuk penamaan menu, Ajeng juga menggunakan nama yang aneh-aneh, seperti Merapi Meletus Sapi Bingung Steak, Ayam Mabuk Steak, Ben Tuman Spesial Steak, dan Aborigin Beef Steak. Pemberian nama ini, terkesan asal comot, tapi ternyata sangat menguntungkan. Karena membuat konsumen tersenyum bila membaca, paling tidak mereka bisa terkesan dibuatnya. Nama merapi meletus terinspirasi oleh letusan Gunung Merapi yang melontarkan batu-batuan. Hujan abunya menyebar ke daerah sekitar.
"Batu-batuan dari Gunung Merapi itu saya ibaratkan kentang yang dibungkus dengan alumunium foil. Makanya, (daging) sapinya bingung, kok ada kentang dibungkus kertas. Di sekelilingnya terdapat sayur wortel, buncis, dan saus yang seperti meleleh," katanya sambil tertawa.

Secara ekonomi, Ajeng memang sudah terbilang sukses. Yang menarik, ia kini sering diundang ke beberapa forum pelatihan kewirausahaan untuk menjadi nara sumber. Keberhasilannya mengelola kedua rumah makan tersebut, kayaknya memang patut ditularkan kepada calon pebisns lain untuk menirunya.”Dengan senang hati, kami menularkan ilmu agar mereka bisa mengikuti jejak kami,” tuturnya.
Ajeng tidak hanya mengembangkan bisnis di Semarang,.Ia telah melebarkan sayap ke Jakarta. Ben Tuman dan Mbah Jingkrak sudah merambah ke ibukota Negara ini dengan cara waralaba. “Kebetulan ada kawan-kawan yang tertarik, karena itulah saya mencoba mengembangkan dengan cara waralaba,” imbuhnya.
Saat ini, Ajeng menjual waralaba untuk Ben Tuman sebesar Rp 150 juta. Sedangkan untuk Mbah Jingkrak, hanya sebesar Rp 50 juta.” Yang minta untuk membuka sudah banyak, kami masih mengkaji kelayakannya,” tuturnya

http://www.majalahpengusaha.com

0 komentar:

Poskan Komentar